Siaga di Tengah Intaian Banjir
- Biro Pers Kepresidenan
"Masyarakat diminta untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaannya dari ancaman banjir dan longsor terkait adanya peningkatan curah hujan," ujar Andi Eka beberapa waktu lalu.
Menurutnya, munculnya fenomena La Nina meskipun masih lemah pada akhir Agustus 2016, diprediksi bertahan hingga awal 2017. Bersamaan dengan La Nina terjadi fenomena Dipole Mode negatif sejak Mei 2016, yang diprediksi bertahan hingga November 2016, dan kondisi anomali Suhu Muka Laut yang hangat di sekitar perairan Indonesia.
Kondisi yang demikian, akan menyebabkan tingginya curah hujan di Sumatera dan Jawa bagian Barat. "Memasuki musim hujan dan tentu saja proses transisi ini perlu diwaspadai pada potensi hujan dan longsor," ujar dia.
![]()
Deteksi Dini
Kewaspadaan seiring dimulainya peralihan musim dari kemarau ke hujan, maka potensi dan risiko bencana berupa banjir dan tanah longsor pun meningkat. Sutopo mengatakan, BNPB telah memetakan wilayah yang berpotensi mengalami bencana banjir dan tanah longsor. Sebanyak 275 kabupaten/kota di Indonesia masuk kategori rawan longsor.
Selain itu, BNPB mencatat sebanyak 63,7 juta jiwa tinggal di daerah rawan banjir. Sedangkan sebanyak 40,9 juta jiwa, tinggal di daerah rawan tanah longsor. "Dari data tadi, kita lakukan koordinasi dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan," terang Sutopo di Jakarta, Senin 26 September 2016.
Warga yang tinggal di wilayah rawan bencana longsor diimbau, agar selalu waspada dan selalu memantau lingkungan sekitar. Terutama, saat maupun pascahujan deras mengguyur wilayahnya. Mengingat, ancaman tambahan berupa tanah longsor dapat terjadi.
Sebagai antisipasinya, BNPB sejak dini telah membangun sistem pendeteksi bencana longsor dengan bekerjasama Universitas Gadjah Mada (UGM), membangun 72 unit sistem peringatan dini longsor selama tiga tahun terakhir, yaitu sejak tahun 2014 hingga 2016.
"Atas perintah Presiden Joko Widodo, pascalongsor di Banjarnegara, BNPB dan UGM memasang 20 unit sistem peringatan dini longsor. Kemudian dilanjutkan 35 unit pada tahun 2015 dan 17 unit pada tahun 2016," kata Sutopo.
Sebagian besar sistem peringatan dini longsor tersebut dipasang di Jawa yang memiliki risiko tinggi longsor seperti di Kabupaten Banjarnegara, Magelang, Kulon Progo, Banyumas, Cianjur, Bandung Barat, Trenggalek, Sukabumi, Bogor, Sumedang, Wonosobo, Garut, dan sebagainya.