Setop Sebar Teror, Bom Gereja Tak Terkait Agama

Aksi Solidaritas #KamiTidakTakut di Lokasi Ledakan Thamrin pada Januari 2016
Sumber :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

Ya, Juhanda berulah lagi. Lima anak-anak yang bermain di halaman gereja menunggu orangtuanya beribadah menjadi korban Juhanda. "Ini sudah terorisme. Kami akan dalami jaringan mana pelaku ini," kata Kapolda Kalimantan Timur Safaruddin, usai menjenguk para korban bom.

img_title Ngeri, Video Aksi Gangster Lempar Bom Molotov ke Pemotor Viral di Medsos 

Terduga pelaku pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda Kalimantan Timur saat diamankan warga usai melarikan diri ke Sungai Mahakam, Minggu (13/11/2016)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

FOTO: Juhanda alias Jo, pelaku pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene Samarinda Kalimantan Timur saat dibekuk warga, Minggu (13/11/2016)

img_title Sajam hingga Bom Molotov Diamankan Polisi saat Menangkap 10 Terduga Pelaku Tawuran

Tak pelak, terbongkarnya siapa Juhanda menjadi sorotan. Sebab, apa yang dilakukan Juhanda menjadi bukti bahwa ternyata program deradikalisasi untuk mantan terorisme, ternyata seperti tak membuahkan hasil.

Juhanda menjadi contoh itu. Berselang dua tahun dibebaskan dari penjara dengan kasus yang sama, ia pun kembali membuat teror serupa dan melukai sejumlah orang.

img_title Demonstrasi Tolak RUU TNI Ricuh di Kota Malang, Diwarnai Lemparan Molotov

Lalu, bagaimana dengan sikap Polri soal munculnya Juhanda ini? Kepolisian sepertinya enggan membahas ini lebih jauh. Hanya saja, mereka memastikan telah memperkirakan jaringan Juhanda dalam pergerakan terorisnya.

"J diduga terkait jaringan teroris kelompok JAD (Jamaah Ansharut Daulah) Kalimantan Timur, yang memiliki koneksi dengan jaringan Anshori Jawa Timur," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Boy Rafli Umar di Jakarta.

Yang jelas, terlepas dari itu. Kemunculan Juhanda, memang menjadi sebuah bukti bahwa persoalan terorisme itu tak segampang dikira. Hal inilah yang sebelumnya sudah dipaparkan mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin beberapa waktu lalu.

"Deradikalisasi malah membentuk ," kata Din April lalu.

Ilustrasi penangkapan oleh Densus 88

FOTO: Tim Detasemen Khusus 88 mengamankan para terpidana terorisme

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Karena itu, kata Din, penanganan terorisme tidak bisa mengandalkan deradikalisasi semata. Sebab, hal itu melupakan bahwa ada faktor lain selain agama yang membelit seorang mantan teroris.

Isu soal kemiskinan, kesnejangan sosial adalah hal yang tak bisa dilupakan begitu saja kepada seorang mantan teroris. Terorisme, kata Din, harus dipandang sebagai hal yang muncul karena beragam faktor seperti kemiskinan dan tindakan pemerintah sendiri terhadap orang-orang yang disebut teroris yang cenderung menekan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut