Fidel Castro, sang Penantang Amerika

Mantan Presiden Kuba, Fidel Castro.
Sumber :
  • Desmond Boylan/Reuters

Menurut JK, sebagai sahabat yang baik, Fidel kala itu sama-sama dengan Bung Karno mendukung gerakan Non-Blok. Fidel Castro pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal gerakan Non-Blok selama dua periode 1979-1983 dan 2006-2008.

img_title Pengagum Fidel Castro, Mantan Dubes AS Rela Jadi Mata-Mata Kuba Selama Puluhan Tahun

"Sama-sama mendukung gerakan Non-Blok dan pejuang negerinya, walaupun juga ada masalah. Tapi, bagaimanapun dia (Fidel Castro) berjuang untuk negaranya," kata JK.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama Fidel Castro memimpin, menurut JK, hubungan Indonesia dengan Kuba juga terjalin sangat baik. "Dia pejuang nasional yang sezaman dengan Bung Karno. Karena itu mempunyai hubungan yang baik," kata JK.

img_title Ketua Komisi Fatwa MUI Prof KH Hasanuddin AF Meninggal Dunia

Dari Jokowi hingga Maradona ikut berduka

Meninggalnya Fidel Castro diratapi banyak kalangan. Tak hanya sebagian besar rakyat Kuba, duka juga dirasakan di belahan dunia lainnya. Selain Wapres JK, ucapan belasungkawa juga disampaikan Presiden Joko Widodo.

img_title Muhammadiyah Berduka Yahya Muhaimin Wafat: Sosok Intelektual Teladan

"Saya menyampaikan duka cita yang sangat mendalam kepada pemerintah dan rakyat Kuba atas meninggalnya Bapak Fidel Castro," kata Jokowi usai menghadiri puncak peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Bogor, Jawa Barat, Minggu 27 November 2016.

Duka mendalam atas meninggalnya Fidel Castro juga dirasakan legenda sepakbola Argentina, Diego Maradona. Ya, Maradona memang punya hubungan emosional dengan sosok Fidel Castro.

Bahkan, Maradona merasakan kematian Castro itu bak menerima pukulan bola tenis dari petenis terbaik Argentina, Juan Martin del Potro. Maradona menganggap Castro yang meninggal di usia 90 tahun, sebagai ayah angkat.

"Saya menangis sejadi-jadinya. Setelah kematian ayah saya, ini adalah kesedihan yang terdalam," kata Maradona seperti dilansir Reuters.

Maradona kali pertama bertemu dengan Fidel Castro pada 1987, setahun setelah Maradona membawa Argentina menjuarai Piala Dunia di Meksiko. Maradona semakin dekat dengan Castro saat menghabiskan empat tahun di Havana, Kuba, untuk rehabilitasi karena kecanduan narkoba.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dia membuka pintu di Kuba, saat klinik-klinik di Argentina tak ingin menerima saya, karena mereka tak ingin bertanggung jawab terhadap kematian saya," kata Maradona.

Menurut Maradona, ia sering mengobrol dengan Castro di pagi hari. Mereka berbicara mengenai politik dan olahraga. Hal itu lah yang membuat Maradona semangat untuk pulih 100 persen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut