Berdamai dengan Alam di Daerah Rawan Gempa

Ilustrasi berdoa.
Sumber :
  • REUTERS/Beawiharta

"Ada 148 juta orang Indonesia tinggal di daerah rawan gempa. Kerentanan ini tinggi karena bangunan rumah yang ada masih belum menyesuaikan dengan kondisi kondisi alam," kata Sutopo.

img_title BMKG Pastikan Gempa di Sumba Barat Daya Tak Berpotensi Tsunami

Jelas ini menuntut kesadaran menyeluruh untuk menghadapi bencana gempa. Bayangkan saja, jika merujuk ke data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), setidaknya di Indonesia terjadi 4.500 kali gempa dalam setahun.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dan dari total rata-rata itu, sebanyak 365 kalinya adalah gempa bumi dengan kekuatan di atas 5,0 SR atau dengan kata lain siap tidak siap dalam sehari itu pasti ada gempa 5,0 SR yang terjadi di mana pun wilayah Indonesia.

img_title BMKG Beberkan Skenario Terburuk Megathrust, Gempa Besar hingga Tsunami

Berdamai dengan bencana
Lalu, jika memang Indonesia ini rawan bencana, apa yang mesti dihadapi?

Pakar geofisika dan vulkanolog Surono pernah menyebutkan, sejatinya seluruh orang Indonesia memang sudah beradaptasi dengan bencana alam. Salah satunya adalah gempa.

img_title UNESCO Peringatkan Tsunami Besar di Mediterania, Probabilitas Capai Hampir 100 Persen

Kondisi itu, kata Surono, ditunjukkan dengan kilasan sejarah dari budaya dan gaya arsitektur bangunan orang dahulu yang banyak menggunakan rumah panggung berbahan kayu. "Itu (contoh) rumah tahan gempa. Tiangnya menjadi satu kesatuan," kata Surono akhir November 2016.

Karena itu, kata Surono, idealnya Indonesia tidak perlu lagi belajar dengan negara lain soal menangani dampak gempa. Namun demikian, sayangnya pada masa lampau itu leluhur orang Indonesia tidak pernah menuliskannya.

Ilmu itu hanya diturunkan lewat lisan yang dirupakan dalam bentuk kesenian berupa kidung, dongeng maupun cerita rakyat.

Warga menyaksikan puing bangunan pasar Meuredu yang rubuh akibat gempa di Pidie Jaya, Aceh, Kamis (8/12/2016). Gempa di daerah ini telah menewaskan 102 orang.

FOTO: Seorang warga di Kabupaten Pidie Jaya Aceh memandangi sisa reruntuhan bangunan akibat terkena gempa, Kamis (8/12/2016)

Menurut Surono, gempa bumi sejauh ini belum ada satu pun alat yang bisa mendeteksi kedatangannya. Karena itulah, satu-satunya peluang terbaik yang bisa dilakukan untuk berhadapan dengan bencana ini adalah dengan 'berdamai' atau menguatkan kesadaran mitigasi bencana kepada masyarakat.

"Gempa tidak bisa di-engineer (rancang), yang harus di-engineer adalah masyarakatnya," kata Surono.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ya, mitigasi menjadi dasar penting penanganan bencana apa pun di Indonesia. Melawan fenomena alam ini jelas hal yang mustahil. Orang Indonesia lah yang harus bersiaga.

Bagaimana bentuknya? Menurut Kepala Pusdatin Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, terkait dengan gempa idealnya saat ini memang diperlukan perombakan tata ruang permukiman di Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut