Berdamai dengan Alam di Daerah Rawan Gempa
- REUTERS/Beawiharta
Angka 148 juta penduduk bermukim di daerah rawan gempa menunjukkan bahwa tata ruang di dalam negeri bermasalah. Perlu upaya bertahap untuk ini. "Daerah sesar gempa jangan lagi untuk permukiman," kata Sutopo.
Selanjutnya, kata Sutopo, pemerintah juga sepatutnya menerbitkan semacam regulasi khusus yang mengatur soal pemberian insentif khusus bagi warga yang membuat rumahnya dengan konstruksi tahan gempa.
Atau setidaknya bisa memberikan subsidi khusus kepada masyarakat yang berinisiatif untuk membuat rumah atau bangunan yang tahan gempa. "(Jadi jangan) Dibebankan kepada masyarakat. Kasihan mereka yang tidak mampu," kata Sutopo.
![]()
FOTO: Rumah tahan gempa yang dibangun di Desa Ngelepen Yogyakarta usai gempa besar tahun 2006. Rumah ini dibangun dengan dana Rp53 juta dan diyakini bisa tahan terhadap guncangan gempa.
Lantas cukupkah itu? Seperti yang disampaikan Surono, menghadapi bencana tidak cukup dengan teknologi saja. Namun kunci paling pentingya adalah manusianya. Sebagus apa pun rumah tahan gempa atau teknologi yang melimpah, jika tak dibarengi dengan kesadaran manusianya, akan percuma.
Dampak bencana berupa kematian bukan tidak mungkin akan terus terjadi. Sederhananya, jika gempa atau bencana alam di Indonesia itu memang sudah menjadi sebuah kepastian yang tak terbantahkan. Maka, seharusnya juga orang Indonesia bisa menyadari dan belajar dari hal itu.
"Kematian itu Tuhan yang menentukan. Tapi jangan menyerah. Bahwa akhirnya bencana adalah takdir, tapi kita sebagai manusia punya akal dan pikiran. Agar kita bisa rekayasa dan berdamai dengan alam," kata Surono.