Memecat Presiden Korsel Park Geun-hye

Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye, (depan) dipecat dan posisinya diganti sementara oleh Perdana Menteri Hwang Kyo-ahn (belakang tengah).
Sumber :
  • Yonhap/ via REUTERS

VIVA.co.id – Pukulan telak menghantam Presiden Korea Selatan, Park Geun-hye. Setelah berminggu-minggu didemonstrasi rakyat sendiri, kini Presiden Park “dipecat” oleh parlemen.

img_title DPR Tolak Pemakzulan Trump

Melalui pemungutan suara Jumat kemarin, parlemen Korsel memakzulkan Park dari posisi presiden karena terkait kasus korupsi. Memang belum “resmi dipecat,” namun perempuan berusia 64 tahun itu harus berstatus non-aktif sebagai presiden – menunggu putusan final dari Mahkamah Konstitusi selambat-lambatnya selama 180 hari dalam mempertimbangkan pemakzulan dari parlemen. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak Jumat malam kemarin – atau beberapa jam setelah pemakzulan itu diputuskan parlemen – Presiden Park resmi non-aktif. Tugas-tugasnya sebagai kepala negara untuk sementara diemban oleh Perdana Menteri Hwang Kyo-ahn.

img_title Wapres Filipina Dimakzulkan Untuk Kedua Kalinya

Park cuma bisa pasrah. “Saya menerima apa yang sudah diputuskan parlemen dan rakyat, sekaligus berharap masalah ini bisa diselesaikan secara tuntas,” kata putri pemimpin pertama Korsel itu seperti dikutip kantor berita Reuters pada Jumat malam waktu setempat.

Park masih berpeluang selamat apabila Mahkamah Konstitusi nantinya mementahkan putusan parlemen sekaligus menyatakan dia tidak bersalah atas kasus korupsi yang menjerat temannya. Namun, pemakzulan dari parlemen itu jelas sudah mencemarkan reputasi Park sebagai perempuan pertama yang menjadi presiden Korsel. Skandal ini pun menjadi aib bagi sejarah politik di Negeri Ginseng itu. 

img_title Trump Mengamuk di Gedung Putih, Parlemen AS Dorong Pemakzulan

Apalagi tekanan atas Park untuk mundur dari arus bawah kian kencang. Rakyat Korea sangat marah bila ada pejabat publik – apalagi sekelas presiden – tersangkut kasus korupsi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selama berminggu-minggu, rakyat memprotesnya. Salah satunya terjadi pada pekan lalu, saat lebih dari satu juta warga turun ke jalan. Tanpa koordinasi, tanpa aba-aba, mereka memenuhi nyaris seluruh jalan raya di Seoul. Sejak sore mereka mulai menguasai jalanan. Hingga malam mereka bertahan, dan ribuan lilin dinyalakan sebagai simbol perlawanan.

Ini adalah unjuk rasa besar yang keenam kalinya menuntut mundurnya Presiden Korea Selatan Park Geun-hye. Diberitakan oleh Korea Herald, 3 Desember 2016, hingga pukul 20.00 waktu setempat, sekitar 1,5 juta demonstran tumpah ruah di jalan-jalan utama yang menghubungkan Balai Kota dan Gwanghwamun Square menuju Gyeongbok Palace di pusat kota Seoul. Menurut penyelenggara, jutaan orang itu datang untuk menyalakan lilin dengan tujuan menguatkan tekanan pada Park untuk segera mundur.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut