Hoax, Tsunami Baru di Era Post-Truth
- ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Zamannya Post Truth
Tahun 2016, kamus Oxford, sebuah terbitan dari Oxford University Press, yang memang memfokuskan pada bahasa atau kata modern yang kerap digunakan publik, pun menyebutkan informasi palsu atau hoax memang menjadi hal yang populer di tahun itu.
"Setelah menjalani proses diskusi, debat dan riset. Oxford Dictionaries menetapkan kata terpopuler untuk tahun 2016 adalah post-truth," demikian tulis editor Kamus Oxford yang dikutip VIVA.co.id di en.oxforddictionaries.com.
Post-truth is the Oxford Dictionaries Word of the Year 2016. Find out more: https://t.co/jxETqZMxsu pic.twitter.com/MVMuMyf83K
— Oxford Dictionaries (@OxfordWords) 16 November 2016
Dalam definisinya, post-truth, adalah kondisi di mana fakta tidak berpengaruh lagi dalam membentuk opini publik dibanding emosi dan keyakinan personal. Ya singkatnya, orang tidak lagi mempercayai fakta, mereka lebih meyakini keyakinan mereka atas suatu informasi.
Dasar Kamus Oxford menetapkan post-truth, cukup beralasan. Dari data yang diolah mereka, memang muncul penggunaan istilah tersebut hingga 2.000 persen dan itu terjadi peningkatannya pada tahun 2016.
Post-truth inilah yang kemudian ditandai dengan merebaknya berita hoax di jejaring sosial. Efeknya, publik pun mempercayai sesuatu yang seolah-olah benar meski itu tidak benar. Zaman post-truth inilah yang kemudian menjadi eranya kebenaran tak lagi dipercaya dan telah membuat perilaku serta keyakinan orang berubah.
FOTO: Frekuensi kata Post Truth yang digunakan publik pada tahun 2016. Catatan Kamus Oxford, kata Post Truth meningkat hingga 2.000 persen pada tahun 2016.
Peneliti media Wisnu Prasetya Utomo, seperti dikutip dalam laman remotivi.or.id, dalam sebuah artikel berjudul 'Ketika Berita Palsu Menjadi Industri' menyebutkan bahwa dampak buruk dari menyebarnya berita palsu atau hoax adalah bisa mempengaruhi orang untuk melakukan tindakan kekerasan.
Wisnu mencontohkan kejadian di Amerika Serikat. Di mana tersebar berita palsu di internet bahwa mantan calon presiden Hillary Clinton melakukan pelecehan seksual kepada anak-anak di sebuah restoran pizza.
Beberapa orang pun percaya. Karena itu mereka nekat membawa senjata ke sebuah restoran pizza dan mengancam para karyawannya. "Dalam konteks di Indonesia, potensi semacam ini bisa terjadi semakin sering. Apalagi jumlah pengakses internet Indonesia sudah mencapai lebih dari 50 persen dari jumlah penduduk," kata Wisnu.