Jalan Tak Aman Biometrik
- Viva.co.id/Amal Nur Ngazis
VIVA.co.id – Di era digital saat ini, fitur keamanan berbasis identitas tubuh manusia sudah banyak bermunculan. Bahkan fitur biometrik itu hadir pada sejumlah smartphone atau perangkat mobile kelas atas sampai kelas menengah.Â
Kehadiran fitur keamanan ini bertujuan memberikan proses autentifikasi yang benar-benar aman dan khas untuk setiap orang.Â
Fitur keamanan biometrik diyakini susah ditembus atau diretas, sebab tidak seperti kode akses password, atau kata sandi, fitur biometrik memanfaatkan kekhasan bagian tubuh manusia yang berbeda. Bisa dilihat, misalnya, sidik jari antar satu orang dengan orang lain pasti berbeda.
Masing-masing sidik jari orang punya kekhasan yang tidak dimiliki orang lain, termasuk dalam kasus anak kembar. Itu baru sidik jari, biometrik yang lebih rumit untuk kode akses keamanan, misalnya, selaput pelangi atau iris mata, pemindaian kuping, pengenalan wajah, sensor denyut jantung sampai sensor denyut nadi seseorang.Â
Demam fitur biometrik makin terasa sejak Apple mengenalkan tombol sensor sidik jari pada 2013 melalui iPhone. Sejak itu, deretan vendor smartphone sampai perusahaan perbankan mengeluarkan sensor biometrik.Â
Tercatat perusahaan layanan finansial, MasterCard, bekerja sama dengan perusahaan biometrik, Nymi menguji autentifikasi detak jantung untuk memverifikasi pembayaran kartu kredit. MasterCard juga mengenalkan fitur sensor swafoto atau selfie untuk verifikasi pembayaran. Perusahaan biometrik, EyeVerify merilis pemindaian pola pembuluh darah di area putih mata melalui swafoto untuk autentifikasi.Â
Sementara Google melalui Abicus Project berencana memantau pola bicara, cara dan jenis berjalan pengguna, untuk mengautentifikasi akses seseorang pada sebuah smartphone.
Biometrik memang menawarkan keamanan yang kuat. Namun nyatanya fakta punya temuan yang berbeda. Fitur keamanan itu justru punya celah rawan yang mengintai.Â
Peneliti National Institute of Informatics (NII) Jepang mengingatkan bahaya dari fitur biometrik. Peneliti lembaga Jepang itu mengatakan, bahaya foto dengan dua jari dengan pose ‘peace’. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab dengan maraknya kamera smartphone beresolusi tinggi, maka sidik jari pengguna yang berfoto dua jari bisa dicuri, informasi biometrik pengguna bocor.Â