TPP Tanpa AS, Antara Peluang dan Ancaman
- BBC
Untuk itu, sebenarnya Indonesia tidak perlu khawatir dengan sikap proteksionisme Trump. Selain karena produk ekspor dalam negeri yang belum bisa bersaing dengan AS, negeri Paman Sam itu masih membutuhkan beberapa barang ekspor nasional.
Tak Jadi Masalah
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, pun menegaskan, tidak ada yang perlu ditakuti atau dikhawatirkan dengan keputusan mundurnya Amerika Serikat dari perjanjian perdagangan Trans Pacific Partnership.
Menurut Darmin, pemerintah belum pernah satu kata pun mengambil keputusan untuk menyatakan Indonesia masuk dalam blok perdagangan tersebut. Bahkan, mantan gubernur Bank Indonesia ini menegaskan, pemerintah tidak mempersiapkan apa pun untuk bergabung dalam TPP.
"Tidak ada (yang perlu ditakuti). Kami belum siapkan apa-apa (untuk ikut serta dalam TPP)," tegas Darmin, di Jakarta, Selasa 24 Januari 2017.
![]()
Dia melanjutkan, jika keputusan AS pada akhirnya memengaruhi keberlangsungan TPP, negara-negara yang sudah siap seperti Singapura dan Vietnam, seharusnya kembali melakukan penyesuaian. Bagi Indonesia, tidak ada masalah besar dari mundurnya AS dari TPP.
Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bobby Rafinus Hamzah, menambahkan, dengan tidak adanya AS di TPP, maka ini jadi kesempatan besar untuk Indonesia meningkatkan hubungan perdagangan secara bilateral dengan negara tersebut.
Menurut Bobby, rencana Trump yang ingin menggenjot produksi dalam negeri, dengan membangun infrastruktur, tentu membutuhkan komponen bahan pembangunan dalam jumlah besar. Namun, hal ini akan tetap dilihat dalam beberapa bulan ke depan.
“Ini bisa membuka peluang, karena ada dimensi lain dari pembangunan infrastruktur. Peluang dari produk kita misalnya, aspal dan bahan-bahan lainnya,” tuturnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pangsa pasar ekspor non minyak dan gas terbesar Indonesia masih didominasi oleh AS dan China. Pada Desember tahun lalu, ekspor non migas ke negeri Tirai Bambu mencapai US$15,10 miliar.
Sementara itu, ekspor non migas ke AS, mencapai US$15,68 miliar atau 11,94 persen dari total ekspor nasional. Selain itu, nilai ekspor Indonesia ke Jepang hingga Desember tahun lalu mencapai US$13,21 miliar. Selanjutnya untuk ASEAN dan Uni Eropa, masing-masing mencapai US$28,78 miliar dan US$14,41 miliar. (art)