Ikhtiar Menjaga Pancasila, Jangan Hanya Basa-Basi
- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Singkatnya, menurut Zuhro, jangan sampai keberadaaan lembaga baru itu hanya menjadi pembenar bahwa pemerintahan Joko Widodo berkomitmen menjaga Pancasila. "Berdirinya UKP-PIP jangan sampai disalahpahami sebagai upaya basa-basi untuk menjaga Pancasila," ujarnya.
Yudi Latief, anggota Tim Perumus UKP-PIP, sudah mengantisipasi tudingan atau kecurigaan sebagian kalangan bahwa lembaga itu tak lebih dari penjelamaan BP-7 buatan Orde Baru--hanya modifikasi sana-sini lalu dikemas dengan nama baru.
Sedari awal lembaga digagas pada 2016, Yudi mengingatkan bahwa UKP-PIP berbeda dengan BP-7. Dia mengatakan, seperti dikutip dari laman Setkab.go.id, “Di dalam proses pengembangan Pancasila dalam gaya baru ini, kita ingin supaya lebih inklusif.”
Penataran P4 maupun BP-7 dinggap sangat sentralistik, militeristik, dan kaku. Peran dan suara masyarakat sipil yang kritis hampir dipastikan diabaikan, bahkan diposisikan sebagai ‘musuh Pancasila’.
Sedangkan UKP-PIP menggunakan pendekatan yang lebih demokratis, partisipatoris, solutif dan kreatif melalui berbagai metode, seperti strategi kebudayaan dan sosial-ekonomi, demi mengawal dan memperkuat Pancasila.
Maka, kata Yudi, UKP-PIP akan melibatkan semua elemen bangsa termasuk budayawan, tokoh agama, seniman, wartawan, tokoh adat, dan semua komunitas agar Pancasila bisa menjadi titik temu nilai bersama.
Selanjutnya...Penanaman Nilai
Penanaman Nilai
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terang-terangan mendukung pembentukan UKP-PIP karena dinilai amat penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada warga negara.
Relevansi sekarang adalah banyak potensi konflik horizontal muncul hanya karena perbedaan keyakinan atau agama. Padahal, Pancasila telah menegaskan bahwa bangsa Indonesia menganut Ketuhanan Yang Maha Esa. Para pendiri negara yang merumuskan Pancasila pun menyudahi perdebatan tentang itu dengan menyepakati Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Contoh, perbedaan antaragama masih jadi agenda berat. Masih ada ego agama masing masing, oleh karena itu Pancasila jadi relevan," kata Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, di Jakarta pada Rabu, 31 Mei 2017.
Menurut Muhaimin, dalam kondisi seperti sekarang, Pancasila harus menjadi jembatan seluruh rakyat Indonesia yang berbeda agama, suku, ras, dan golongan. Pancasila harus menyatukan semua dalam Indonesia yang damai.
Dia berharap mata pelajaran Pancasila yang sempat dihilangkan dalam kurikulum pendidikan segera diaktifkan lagi. Soalnya ideologi Pancasila harus selalu terjaga, dan itu harus ditanamkan sejak dini, sejak tingkat sekolah dasar.