London Bridge, Serangan Teror Jelang Pemilu

Polisi bersenjata lengkap berjaga di sekitar London Bridge setelah terjadi serangan pada Sabtu malam, 3 Juni 2017,
Sumber :
  • Reuters/Peter Nicholls

Paska ledakan bom di konser Ariana Grande, para politisi sepakat meniadakan kegiatan dalam rangkaian pemilu selama tiga hari, demi menghormati dan memberikan kesempatan berduka cita pada korban dan seluruh warga Inggris. Lalu Minggu 4 Juni 2017, tanggal di mana seharusnya parpol kembali melakukan kampanye untuk merebut perhatian konstituen, sebuah serangan kembali terjadi.

img_title Serangan Air Keras Lukai Enam Warga London

Demi menghormati para korban, partai-partai sepakat  meniadakan kampanye. Partai Konservatif lebih dulu memulainya dengan memastikan tak akan melakukan kampanye 4 Juni 2017. Partai Buruh dan Partai Republik Demokrat mengikuti. Hanya Partai Independen (UKIP) yang menolak membatalkan. Paul Nuttal, pemimpin UKIP mengatakan, tak ingin menuruti kemauan teroris. Melalui akun Twitternya, Paul Nuttal menulis, “Saya tak ingin menunda kampanye UKIP. Karena menghancurkan demokrasi adalah tujuan para teroris.”

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski menghadapi teror bertubi-tubi, namun pemerintah Inggris masih tak yakin akan membatalkan pemilu. Sekretaris Brexit, David Davis mengatakan menunda pemilu bukan hal yang diinginkan publik. "Dan jika pun harus ditunda, saya tak yakin itu bisa dilakukan secara legal," ujarnya kepada BBC.

img_title Polisi Ciduk Dua Pelaku Teror Bom Kereta London

Politisi dari Partai Buruh Emily Thornberry juga sepakat agar tak menunda pemilihan umum. "Kita sangat sadar, apa yang pembunuh inginkan adalah untuk membunuh nilai-nilai dan demokrasi kita," ujarnya.

Teror Berencana

img_title Usai Ledakan di London, Ribuan Militer Jaga Keamanan

Inggris terus menjadi sasaran teror. Sejak beberapa bulan sebelum pengeboman, FBI sudah memberikan informasi rahasia kepada Inggris, bahwa Salman Abedi, pelaku bom bunuh diri di konser Ariana Grande sudah memasuki Inggris. Salman Abedi adalah bagian dari jaringan teroris Afrika Utara yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pelaku serangan di London Bridge memang belum disebut identitasnya, atau apakah mereka memiliki kaitan dengan pelaku aksi terorisme internasional seperti ISIS, namun seorang saksi mata beragama Islam, Simina Motalib mengaku mendengar pelaku meneriakkan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab.

"Sebagai orang Inggris yang terlahir sebagai Muslim, sangat mengerikan bagi saya mendengar mereka menggunakan kalimat-kalimat Islami terlontar dari mereka saat melakukan aksi barbar, apalagi di bulan Ramadan ini," ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut