London Bridge, Serangan Teror Jelang Pemilu
- Reuters/Peter Nicholls
Paska ledakan bom di konser Ariana Grande, para politisi sepakat meniadakan kegiatan dalam rangkaian pemilu selama tiga hari, demi menghormati dan memberikan kesempatan berduka cita pada korban dan seluruh warga Inggris. Lalu Minggu 4 Juni 2017, tanggal di mana seharusnya parpol kembali melakukan kampanye untuk merebut perhatian konstituen, sebuah serangan kembali terjadi.
Demi menghormati para korban, partai-partai sepakat meniadakan kampanye. Partai Konservatif lebih dulu memulainya dengan memastikan tak akan melakukan kampanye 4 Juni 2017. Partai Buruh dan Partai Republik Demokrat mengikuti. Hanya Partai Independen (UKIP) yang menolak membatalkan. Paul Nuttal, pemimpin UKIP mengatakan, tak ingin menuruti kemauan teroris. Melalui akun Twitternya, Paul Nuttal menulis, “Saya tak ingin menunda kampanye UKIP. Karena menghancurkan demokrasi adalah tujuan para teroris.”
Meski menghadapi teror bertubi-tubi, namun pemerintah Inggris masih tak yakin akan membatalkan pemilu. Sekretaris Brexit, David Davis mengatakan menunda pemilu bukan hal yang diinginkan publik. "Dan jika pun harus ditunda, saya tak yakin itu bisa dilakukan secara legal," ujarnya kepada BBC.
Politisi dari Partai Buruh Emily Thornberry juga sepakat agar tak menunda pemilihan umum. "Kita sangat sadar, apa yang pembunuh inginkan adalah untuk membunuh nilai-nilai dan demokrasi kita," ujarnya.
Teror Berencana
Inggris terus menjadi sasaran teror. Sejak beberapa bulan sebelum pengeboman, FBI sudah memberikan informasi rahasia kepada Inggris, bahwa Salman Abedi, pelaku bom bunuh diri di konser Ariana Grande sudah memasuki Inggris. Salman Abedi adalah bagian dari jaringan teroris Afrika Utara yang berafiliasi dengan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.
Pelaku serangan di London Bridge memang belum disebut identitasnya, atau apakah mereka memiliki kaitan dengan pelaku aksi terorisme internasional seperti ISIS, namun seorang saksi mata beragama Islam, Simina Motalib mengaku mendengar pelaku meneriakkan kalimat-kalimat dalam bahasa Arab.
"Sebagai orang Inggris yang terlahir sebagai Muslim, sangat mengerikan bagi saya mendengar mereka menggunakan kalimat-kalimat Islami terlontar dari mereka saat melakukan aksi barbar, apalagi di bulan Ramadan ini," ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.