Teror Eropa dan Utopia Perdamaian

Petugas kepolisian dan forensik di lokasi serangan van terhadap pejalan kaki di Finsbury Park, London Utara, Inggris Raya, 19 Juni 2017.
Sumber :
  • REUTERS/Neil Hall

Dominic Casciani, wartawan BBC di London juga mengakui, meningkatnya intensitas serangan pada Muslim. "Ancaman dari kelompok ekstrem kanan meningkat tahun-tahun terakhir ini, sampai bulan Maret tahun ini, 16 persen penahanan akibat teror diklasifikasikan sebagai ekstremisme dalam negeri. Dan, pelakunya melakukan tindak kekerasan mencari target Muslim yang jelas, seperti masjid-masjid," ujarnya.

img_title Kapolda Sulteng Serahkan Rumah Hasil Renovasi ke Istri Ali Kalora

Berikutnya, serangan ISIS>>>

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serangan ISIS

img_title Immanuel Ebenezer ke Islah: Buktikan Saja Kalau Munarman Teroris!

Meningkatnya serangan pada Muslim di Eropa, bisa jadi menjadi sebuah cerminan meningkatnya permusuhan pada Muslim. Aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok ekstremis Muslim seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tak dipungkiri memberi pengaruh pada menguatnya sentimen anti-Muslim. Apalagi, sejak awal Ramadan, ISIS sudah meminta pada anggotanya di seluruh dunia untuk meningkatkan serangan.

Melalui Amaq, media resmi ISIS, kelompok ini mengabarkan maklumatnya pada anggota mereka di seluruh dunia. Seruan itu bersambut. Bahkan, sejak menjelang Ramadan, aksi teror yang diklaim oleh ISIS terasa mengalami peningkatan.

img_title Ketua JoMan Bela Munarman, Guntur Romli Lapor Erick Thohir

Dimulai dengan serangan terhadap pawai Kristen Koptik di Kairo, ISIS juga menggerakkan serangan oleh Boko Haram di beberapa wilayah di Nigeria. Selain itu, terjadi upaya perebutan Marawi di Filipina Selatan dan pengeboman Manchester Arena yang membunuh 22 orang.

Pengeboman juga terjadi di Kabul, dengan total 150 orang tewas yang disusul serangan di Kota London, yang menyebabkan delapan orang tewas. Selain itu, serangan juga terjadi di Iran dan menewaskan 12 orang.

Analis Timur Tengah dan Terorisme yang berbasis di Washington, Daveed Gartenstein-Ross menilai bahwa gencarnya ISIS melancarkan teror pada bulan suci umat Islam, karena ingin tetap mempertahankan eksistensinya.

ISIS diketahui mulai kehilangan sebagian teritori yang direbutnya di Irak dan Suriah. Karena itu, eksistensi tersebut harus dijaga dengan mempertahankan serangan di berbagai lokasi khususnya wilayah yang tidak dikendalikan jaringan tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"ISIS bagaimana pun tetap ingin survive sebagai organisasi. ISIS tak ingin kehilangan eksistensinya kala teritorinya hilang. Karena itu, serangan demi serangan untuk menarik perhatian harus dilancarkan," kata Daveed seperti dikutip dari The Guardian.

Namun, pakar Studi Timur Tengah dari kampus bergengsi Science Po di Paris, Jean-Pierre Filiu memprediksi, ISIS belum akan bisa dituntaskan dalam waktu singkat. Menurutnya, Mosul di Irak dan Raqqa di Surah, juga belum sepenuhnya direbut dari ISIS. "Ini masih akan jadi perjalanan panjang," kata Jean-Pierre.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut