Menghukum Pelaku Bullying
- VIVA.co.id/ Zahrul Darmawan
VIVA.co.id – Menjadi mahasiswa seharusnya sudah masuk tahap menjadi lebih dewasa, lebih matang dalam berpikir dan bertindak. Bukannya justru berbuat onar dan merugikan orang lain.
Namun, aksi perundungan alias bullying yang diperlihatkan mahasiswa di suatu perguruan tinggi di Kota Depok beberapa waktu lalu merupakan perbuatan yang sangat tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang disebut sebagai mahasiswa. Apalagi korbannya pun sesama mahasiswa, yang dianggap lemah karena berkebutuhan khusus atau mengidap autisme.Â
Bullying di Indonesia memang bukan masalah baru. Tapi, sangat disayangkan bila perundungan ini terjadi di lingkungan orang-orang berpendidikan tinggi. Pihak-pihak yang berkepentingan – termasuk penyelenggara perguruan tinggi – jangan lagi menganggap bullying sebagai suatu kenakalan biasa, namun harus menjadikannya sebagai kejahatan.
Apalagi aksi itu tidak sekadar menindas, namun juga sengaja mempermalukan korban dengan menyiarkan perundungan itu ke media sosial. Penderitaan yang dialami FH, demikian inisial mahasiswa semester satu di Universitas Gunadarma Depok, mencuat lewat rekaman video atas perundungan yang dialaminya beredar di media sosial. Pelakunya pun disinyalir sesama mahasiswa di Gunadarma dan identitasnya sudah diketahui.
Memang, dari rekaman itu, tidak terlihat adanya pemukulan atau kekerasan fisik lainnya yang menyebabkan FH terluka. Hanya saja, dalam tindakan ini, pelaku seolah sengaja mempermalukan FH di hadapan banyak orang, agar keterbatasan yang ada pada diri FH diketahui semua orang.
Tampak pelaku sengaja memegangi badan FH agar tak bisa bergerak. Dan, yang lebih menyakitkan, pelaku dan orang-orang yang ada di lokasi, tanpa rasa belas kasihan, ikut menikmati aksi bully dengan ikut menertawai apa yang terjadi pada FH.
Dari rekaman itu pula, terlihat FH sangat tersakiti dan dia berusaha meluapkan kekesalannya atas perundungan itu dengan melemparkan tong sampah ke arah pelaku
Hanya beberapa saat saja video beredar, kecaman demi kecaman bermunculan dari berbagai pihak, terutama dari organisasi peduli penyandang disabilitas. Apalagi ternyata video itu diunggah langsung oleh salah satu pelaku bully.
"Saya merasa ini tidak manusiawi, pelaku merasa bangga dan lingkungan tidak ada yang mencegah dan itu diunggah langsung oleh pelaku," Farida dari Yayasan Cinta Sahabat Sosial saat ditemui di kampus Gunadarma, Margonda Depok, Senin, 17 Juli 2017.