Nestapa dari Lereng Gunung Agung

Sejumlah pengungsi Gunung Agung beraktivitas di tempat penampungan
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terakhir mencatat gempa tremor non-harmonic muncul satu kali dengan durasi 143 detik pada periode 00.00 WITA hingga pukul 12.00 WITA, Kamis 19 Oktober 2017.

img_title PVMBG: Asap Kawah Gunung Agung Bali Bertekanan Lemah

Dalam 12 jam terakhir (terhitung Kamis, 19 Oktober 2017 pukul 00.00 WITA-12.00 WITA), gempa vulkanik dangkal mencapai 116 kali, vulkanik dalam 421 kali, tektonik lokal 86 kali, gempa terasa 1 kali. Secara keseluruhan, dalam 12 jam terakhir, Gunung Agung diguncang sebanyak 624 gempa dan 1 kali tremor non-harmonic.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Karena untuk gunung api yang jarang meletus memang sukar sekali untuk memastikan letusannya. Sebetulnya tidak ada juga yang bisa memastikan," kata Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, Kamis 19 Oktober 2017.
 
Tunggakan Rp1 Triliun

img_title Gunung Agung Erupsi, Muntahkan Lava Sejauh Tiga Kilometer

Dengan kondisi alam tak menentu ini, tentu mempengaruhi sendi perekonomian warga di Kabupaten Karangasem. Ratusan ribu warga mengungsi dan tak dapat melanjutkan aktivitasnya sehari-hari membuat perekonomian di wilayah yang dihuni 500 ribu jiwa itu lumpuh. Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga ikutan lumpuh.

Padahal, menurut Bupati Karangasem, IGA Mas Sumantri, Karangasem selama ini mengandalkan PAD dari galian C dan juga pariwisata. Tapi, sejak Gunung Agung di wilayahnya berstatus 'Awas', semua pemasukan daerah itu berhenti. Ia pun harus memutar otak mencari cara agar roda ekonomi di wilayahnya tetap bergerak.

img_title Dua WNA Terjebak di Puncak Gunung Agung

"Sekarang bagaimana kita memohon kegiatan apa yang bisa dibawa ke Karangasem dari kementerian, kegiatan CSR, dari provinsi dan lain-lain. Tentu Karangasem mesti diperhatikan," kata Mas Sumantri kepada VIVA.co.id di Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Gunung Agung di Pelabuhan Tanah Ampo, Kabupaten Karangasem, Bali, Selasa 17 Oktober 2017.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mas Sumantri memaparkan, dari 500 ribu penduduk Karangasem, separuh dari penduduknya di 28 desa mengungsi. Meski separuhnya lagi tak mengungsi, tetap saja roda perekonomian di kabupaten paling timur di Pulau Dewata ini mandek. Karena, penduduk yang tak mengungsi juga tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang.

"(Pendapatan ekonomi warga) Itu turun. Boleh saya katakan pekerjaan tidak ada lagi. Meski tak mengungsi pun tak ada kerjaan, ekonomi terancam," ujarnya. [Baca: Amlapura Menjelma Jadi Kota Mati di Kaki Gunung Agung]

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut