Nestapa dari Lereng Gunung Agung
- ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana
"Apakah mungkin menurunkan status awas itu? Status itu dari tanggal 22 September lalu. Sudah lebih dari dua minggu. Kalau satu bulan, dampaknya panjang," kata Pastika di Denpasar Bali, Kamis 19 Oktober 2017.
Mangku Pastika ingin memastikan dengan stakeholder terkait, apakah status 'Awas' yang terjadi sekian lama trennya akan menurun atau sebaliknya. Menurutnya, meski kondisi Gunung Agung saat ini fluktuatif, tetap bisa diambil kesimpulan bagaimana kemungkinan mengantisipasi tren gunung ini ke depan.
"Ini kan gunung. Akibat ada gerakan di sini, maka statusnya awas. Kan begitu. Ini kan pasti ada kalkulasi untuk menyatakan awas ini. Hitung-hitungannya bagaimana, ini harus kami pelajari," kata dia.
Sebab, kata Pastika, bencana Gunung Agung telah berdampak luas bagi hampir ke seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali secara keseluruhan. Tak hanya dalam konteks persiapan logistik pengungsi belaka, namun juga di sektor pendidikan, kesehatan, infrastruktur, pariwisata dan lain sebagainya.
"Semua ini berdampak. Ekonomi yang paling terasa. Yang tadinya ada penghasilan, sekarang tidak ada penghasilan. Yang tadinya bisa bayar kredit, sekarang tidak bisa bayar kredit. Yang tadinya bangunan berjalan, sekarang setop. Kalau bangunan setop, buruhnya juga harus setop," tuturnya.
Belum lagi jika proyek pembangunan itu ternyata milik pemerintah. Hal itu akan berdampak pada mangkraknya proyek tersebut. Jika hingga tahap akhir proyek itu tidak kelar, akan terkena penalti. Apalagi, saat ini tahun anggaran 2017 sudah akan berakhir.
Sementara untuk anggaran proyek yang tidak selesai konsekuensinya harus dikembalikan ke kas negara, dan untuk mengusahakan lagi anggaran tersebut harus menanti anggaran perubahan tahun depan. Itu pun kalau anggaran tersebut masih bisa dianggarkan.
"Jadi panjang akibatnya. Mangkrak lah bangunan ini sampai nanti akhir tahun depan. Itu baru dari segi pemerintahan saja, runyam ini. Bukan hanya setoran kredit urusannya. Itu hanya salah satu sisi," terang Pastika.
Â
Kemudian, dalam hal logistik bagi 180 ribu lebih pengungsi, Pastika mengatakan pemerintah setiap harinya harus mengeluarkan 50 ton beras. Kebutuhan itu di luar dana mengurus para pengungsi yang terjangkit penyakit dan perekonomian mereka yang mandek usai mengungsi.
Â
"Banyak sekali rentetannya dengan status awas dan radius itu. Jadi, saya sedang bersama-sama menghitung, mengalkulasi kembali apa yang terjadi dan apa dampaknya kalau status itu terus dipasang," ujarnya