Menyingkirkan Pangeran-pangeran Arab Saudi

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman.
Sumber :
  • REUTERS/Hamad I Mohammed

Jadi figur penting di lingkungan Raja Arab, Pangeran Mohammad kemudian mengeluarkan Visi 2030 yang menjadi dasar peta jalan perubahan yang akan dilakukannya di Saudi dalam berbagai aspek termasuk ekonomi, sosial, politik dan keamanan. Tak butuh waktu lama, gaungnya sudah mulai terdengar.

img_title Siapakah Pangeran Al-Waleed? Kisah Tragis di Balik Koma 2 Dekade yang Hantui Kerajaan Saudi!

Pangeran Mohammad sebagai contoh sedang menyiapkan zona ekonomi khusus pariwisata sekelas Dubai seluas 470 Kilometer di pantai Laut Merah. Wilayah itu akan menjadi pusat ekonomi liberal yang menandakan Arab Saudi mulai membuka pintu bagi sumber ekonomi selain minyak.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Belum lama ini, otoritas Arab Saudi juga mengumumkan kelonggaran atas aktivitas perempuan yang selama ini sangat dibatasi di negaranya. Para perempuan Saudi akan diperbolehkan menyetir mobil dan menonton pertandingan di stadion maupun gelanggang olahraga lainnya. Kebijakan itu akan mulai berlaku pada tahun 2018. Tak hanya itu, kaum hawa bakal diperbolehkan bepergian ke luar negeri tanpa harus didampingi oleh suami.

img_title Tidur Panjang Selama 20 Tahun, "Sleeping Prince" Pangeran Al Waleed Didoakan Netizen Segera Bangun

Tak sampai di situ, Arab Saudi pada September 2017 lalu juga menangkapi para ulama atau syeikh yang dianggap beraliran garis keras.  Atas restu Raja Salman, para ulama yang dianggap beririsan dengan aksi dan jaringan teroris berbahaya bagi Saudi ditahan. Mereka kebanyakan dilaporkan memiliki hubungan dengan Qatar dan Ikhwanul Muslimin yang dicap Saudi sebagai pendukung teroris.

Korupsi, ‘Dosa’ Legal Baru

img_title Terpopuler: Richeese Pizza Hadir di Indonesia hingga Kisah Pilu Pangeran Al-Waleed Koma Sejak 2005

Yang menarik, sepak terjang Pangeran Mohammad juga menyasar dugaan kasus-kasus korupsi yang selama ini hampir tak mungkin terungkap apalagi berhubungan dengan keluarga dan kerabat Kerajaan Saudi.  Pada tahun 2017, Pangeran Mohammad membentuk lembaga sejenis Komisi Antikorupsi. Baru berdiri beberapa bulan, lembaga itu mulai menunjukkan “taringnya”.
 
Pada Sabtu, 4 November 2017 dilakukan penangkapan terhadap 11 pangeran Arab Saudi, belasan menteri dan mantan pejabat negara itu. Mereka ditahan atas pasal korupsi. Kejadian ini mengejutkan publik. Apalagi salah satu pangeran yang ditahan tak lain adalah salah satu miliarder terkaya Saudi yang memiliki saham di banyak perusahaan multinasional ternama di berbagai belahan dunia, Pangeran Alwaleed bin Talal sebagaimana dilansir BBC.

Situs Wikileaks sebelumnya pernah merilis data-data besarnya kucuran dan biaya bulanan kepada keluarga kerajaan dan adanya sejumlah penyalahgunaan uang negara oleh keluarga kerajaan dan bangsawan. Namun sayangnya, korupsi di Arab Saudi ibarat tak dianggap sebagai kejahatan selama ini, apalagi yang dikaitkan dengan para figur berpengaruh.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut