Menyingkirkan Pangeran-pangeran Arab Saudi

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman.
Sumber :
  • REUTERS/Hamad I Mohammed

“Mau tidak mau harus dilakukan. Kalau tidak, cost sangat besar. Bila aspirasi publik tidak disambut oleh kalangan Kerajaan, dikhawatirkan jadi akumulasi dan merambah ke sektor politik terutama soal partisipasi publik
di pemerintahan,” kata Yon Machmudi saat dihubungi VIVA, Selasa 7 November 2017.

img_title Siapakah Pangeran Al-Waleed? Kisah Tragis di Balik Koma 2 Dekade yang Hantui Kerajaan Saudi!

Sementara mengenai penangkapan dan penahanan para pangeran dan menteri yang terjerat korupsi dipandang Yon dari dua sisi. Yang pertama, hal itu perlu dilakukan untuk menyelamatkan ekonomi Saudi. Iklim transparansi dalam hal ekonomi dan keuangan akan menjadi kunci jika Arab ingin mendulang lahan baru seperti investasi dan sektor pariwisata. Kebijakan itu juga dianggap konsisten dan akan mendukung Visi 2030 Pangeran Mohammad.
  
Dari sisi politik dan sosial, Kerajaan Saudi pada saat ini berusaha memosisikan diri di hadapan rakyat sebagai pihak yang punya tanggung jawab menjalankan reformasi termasuk menegakkan hukum. Pengamat tersebut menilai bahwa kebijakan ini sebenarnya cukup riskan jika para koruptor yang ditangkap melakukan perlawanan yang bisa mengganggu stabilitas negara itu.  

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Akan membutuhkan waktu yang panjang karena reformasi Arab tak bisa radikal dan cepat tapi harus evolusi. Kalau secara radikal akan menimbulkan perlawanan balik,” ujar Yon. (ren)

img_title Tidur Panjang Selama 20 Tahun, "Sleeping Prince" Pangeran Al Waleed Didoakan Netizen Segera Bangun
Ilustrasi meninggal dunia.

Terkuak, Pangeran Muda Arab Saudi Meninggal akibat Campuran Alkohol, Obat, dan Narkoba

Pangeran Arab, Abdullah bin Fahad bin Abdullah ditemukan meninggal di kamar hotel mewah di London. Hasil autopsi diketahui ia henti jantung karena alkohol, obat, narkoba

img_title
VIVA.co.id
26 Juli 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut