Naura dan Genk Juara dalam Pusaran Isu Agama
- YouTube Naura dan Genk Juara
Dia bahkan menyebut film ini memuat nilai-nilai yang tendensius dalam beragama.
"Islam dicitrakan sebagai penjahat berjenggot, yang meski menteriakan takbir, sering istighfar, namun kelakuan bejat, bahkan di film dinamai trio licik. Apa susahnya memasukan kata-kata lain untuk dijadikan gimmick? KURANG IDE?! Belajarlah pada Miles (Mira Lesmana) dan timnya yang dengan kreatif membuat kata2 macam 'Trembelane' sebagai kata2 khas tokoh Kertaradjasa si penjahat (dalam film Petualangan Sherina)," tambah Windi.
"Sungguh, saya sama sekali susah melepaskan prasangka saya terhadap produser dan timnya (yg memang saya melihat daftarnya adalah orang2 yang sangat membela seorang tokoh politik) dari keberpihakan mereka. Padahal banyak orang Islam di tim itu, tokoh utama dan keluarganya pun muslim, namun mengapa sampai bisa melukai ummat muslim dengan penokohan jahat macam itu? Bukankah ini adalah cara memupuk kebencian terhadap orang lain, terhadap sebuah agama! Katanya menjunjung kebhinekaan?! Slogan saja, ternyata!! Politik boleh berbeda, namun untuk mendidik generasi bangsa, haruslah sama: BIJAKSANA!" tulisnya lagi.
Tak berhenti di sini, Windi Ningsih bahkan membuat petisi online di laman Change.org yang hingga Rabu sore, 22 November 2017 pukul 12.56 WIB sudah ditandatangani lebih dari 35 ribu orang. Petisi itu menuntut agar semua yang berwenang dalam penyiaran, pendistribusian, dan pengawasan perfilman di Indonesia menindak tegas hal ini. Produser, sutradara, dan penulis skenario pun diminta untuk merilis pernyataan maaf di hadapan publik karena dianggap sudah melecehkan Islam.
"Kami meminta pada pihak yang berwenang untuk MENARIK dan MENSTOP peredaran dan pemutaran film Naura dan Genk Juara dari jaringan industri perfilman di Indonesia karena memecah belah persatuan bangsa!" tulisnya menutup petisi tersebut.
![]()
LSF dan Sutradara Bantah Ada Unsur Hina Islam
Ketua Komisi I Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF) yang membidani masalah penyensoran dan dialog, Imam Suhardjo membantah sejumlah kritikan yang ditujukan pengguna FB tersebut kepada film ini.Â
"Tidak ada yang takbir di sana. Soal jenggot itu gambaran umum, memang penggambaran umum karakter penjahat itu punya janggut, jenggot. Salah satu penjahatnya juga pakai celana pendek, bukan celana cingkrang," ujarnya kepada VIVA saat dihubungi melalui sambungan suara, Rabu, 22 November 2017.