Naura dan Genk Juara dalam Pusaran Isu Agama
- YouTube Naura dan Genk Juara
Terkait ada penggunaan kalimat-kalimat suci dalam Islam oleh tokoh penjahat Trio Licik, LSF tak mempermasalahkannya. Menurut mereka, wajar saja mengingat cerita juga berkisah di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.
"Ini film dibuat dengan setting Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Jika penjahatnya beragama Islam ya wajar-wajar saja,” kata Imam.
Menurutnya, sama wajarnya dengan penjahat di film Home Alone 20-an tahun lalu yang penjahatnya non-muslim. Ketika si penjahat di tengah malam di hutan lagi ketakutan karena mengira ada hantu, salah satunya berdoa. Karena dia muslim dia bacanya doa Islam.
“Tapi yang dibaca salah 'comot', yang dibaca doa mau makan, Allhumma baariklanaa fiima razaqtanaa..dst. Dia ditegur temannya, 'Itu doa mau makan.' Kita tahu bahwa penjahatnya muslim ya karena dia baca doa itu. Tak ada penggambaran spesifik bahwa muslim itu jahat. Lagi-lagi dia adalah penjahat di negeri mayoritas penduduknya muslim," Imam menambahkan.
Pihaknya juga memberi analogi serupa jika nantinya ada film tentang kasus korupsi yang koruptornya melakukan salat atau berdoa dalam bui. Penggambaran dalam adegan itu tidak sama sekali menunjukkan bahwa Islam jahat.
"Jangankan mendiskreditkan, kita tahu kalau penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa itu. Ketika akhirnya si penjahat terkepung salah satunya menyebut, Astaghfirullahaladzim. Pertanyaannya, di bagian manakah adegan atau cuplikan mendiskreditkan Islam? Jika dihubung-hubungkan dengan penista agama, menurut saya terlalu jauh berspekulasi," tambahnya lagi.
Alumni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ini kemudian mengajak masyarakat memperluas spektrum pemikiran bersama. Jika yang dipersoalkan adalah doa dan ucapan istighfar dari tokoh jahat, maka menurutnya, berarti sosok itu digambarkan masih ingat Allah.
"Di masa lalu ada tokoh ulama bernama Syaikh Djamil Djambek yang sebelumnya adalah seorang penjahat. Ketika dia terkepung dia lompat ke sebuah sungai. Lalu istighfar dan berjanji akan tobat. Di kemudian hari dia jadi ulama," kata Imam memberi wawasan.
Sutradara Eugene Panji pun tak pernah menyangka filmnya akan diwarnai kontroversi terkait isu agama. Saat dimintai keterangan, Eugene mengaku bingung, sebab itu di luar dugaannya. Sejak awal, Eugene hanya ingin membuat film dan lagu untuk anak-anak Indonesia.