Nafas Panjang Pertamina dari Blok Mahakam
- ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Dengan demikian, lanjut dia, seharusnya Pertamina memperhitungkan secara komprehensif pontensi keuntungan pengelolaan Blok Mahakam dengan potensi kehilangan dari penugasan yang diberikan negara.
Terlebih saat ini, Blok Mahakam masih menyisakan cadangan sebesar 57 juta barel minyak, 45 juta barel kondensat, dan 4,9 trillion cubic feet (tcf gas).
Selain itu, asset non-cash Blok Mahakam, asset Pertamina akan betambah kurang-lebih 20 persen, yakni sebesar US$9,43 miliar atau sekitar Rp122,59 triliun.
Adanya tambahan asset sebesar itu, total asset Pertamina kini menjadi US$54,95 miliar atau sekitar Rp714,35 triliun. Asset sebesar itu, meningkatkan modal sendiri (equity) Pertamina, dan meningkatkan financial leverage Pertamina hingga tiga kali lipat.
Peningkatan financial leverage itu akan semakin meningkatkan kredibilitas Pertamina dalam memperoleh dana segar dari pihak ketiga, termasuk penerbitan obligasi, untuk belanja modal dan operational expenditure, baik untuk biayai operasional Blok Mahakam, maupun Blok Migas lainnya.
Selain itu, urai Fahmy, dengan share down 39 persen saham Blok Mahakam, Pertamina diperkirakan bisa meraup dana segar sebesar US$3,68 (39 persen X US$9,43 miliar) atau Rp47,84 triliun.
“Maka dengan pengelolaan Blok Mahakam, Pertamina memperoleh tambahan asset sebesar Rp122,59 triliun, fresh money sebesar Rp47,84 triliun, dan pendapatan netto per tahun sebesar Rp4,12 triliun,” jelasnya.
Untuk itu, Ia menyarankan, dengan tambahan non-cash asset, cash flow dan pendapatan dari Blok Mahakam, Pertamina tidak sepantasnya selalu mengeluhkan penugasan pemerintah.
“Pertamina juga sudah seharusnya bertambah peka dan peduli terhadap rasa keadilan rakyat, dengan mendukung keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga premium, solar, dan minyak tanah hingga kuartalan 2018, bahkan sepanjang 2018,” tegasnya.
Sedangkan VP Corporate Communication Pertamina, Adiatma Sardjito, mengatakan pengelolan Blok Mahakam dan Penugasan BBM Satu Harga yang diberikan pemerintah tidak bisa dijadikan satu hal yang berkaitan secara langsung.
Menurut dia, pengelolaan migas di hulu dan hilir tidak ada hubungannya sama sekali. Sehingga, Adiatma berharap semua pihak bisa melihatnya secara utuh dan tidak melihat hal tersebut sebagai sesuatu untung dan rugi Pertamina.
"Saya mengajak kita jangan selalu melihat untung dan rugi, tapi multiplier effect, dampak dari masyarakat dengan BBM satu harga, ada sebuah ekonomi baru, anak sekolah bisa belajar misalnya ada genset," ujarnya kepada VIVA.