Nafas Panjang Pertamina dari Blok Mahakam
- ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Potensi di Blok Mahakam masih cukup menjanjikan. Cadangan terbukti per 1 Januari 2016 sebesar 4,9 TCF gas, 57 juta barel minyak dan 45 juta barrel kondensat.
Selanjutnya, Produksi 48 ribu barel per hari
Produksi 48 ribu barel per hari
Sementara itu, mulai 1 Januari kemarin PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mengajukan target kepada SKK Migas sebagai pengatur usaha hulu migas untuk pengelolaan Blok Mahakam.
Direktur Utama PT PHI Bambang Manumayoso mengatakan target produksi minyak Blok Mahakam tersebut sebesar 48 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas 1.100 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Dan untuk mencapai target tersebut, Bambang mengakui siapkan kegiatan sumur pengembangan atau development well sebanyak 55 sumur dan rencana tambahan dua sumur, serta kegiatan workover di 125 sumur dan tambahan tujuh sumur.
“Kami juga ada well service sebanyak 5.550 dan tambahan 101 sumur serta POFD (Plan of Further Development) sebanyak lima dan tambahan dua proyek,” ujar Bambang.
Namun demikian, menurut dia, rencana tersebut bisa berubah jika melihat perkembangan harga minyak yang positif. Untuk saat ini, Work Plan & Budget (WP&B) masih dibuat dengan estimasi harga minyak dunia US$48 per barel.
"Kalau harga minyak bagus kita akan ajukan penambahan dua PoD lalu pengembangan sumur bisa jadi 70, workover tambah tujuh sumur serta menambah pengerjaan sumur perawatan sebanyak 101 sumur," ujarnya.
Bambang menuturkan untuk mencapai target produksi tersebut, Pertamina pun menganggarkan biaya investasi pada 2018 sebesar US$700 juta atau sekitar Rp9,45 triliun.
Direktur Hulu Pertamina Syamsu Alam menambahkan dengan masuknya Pertamina mengelola Blok Mahakam maka nantinya akan membuat BUMN energi ini sebagai penyumbang 30 persen lebih produksi minyak dan gas nasional sepanjang 2018.
Selanjutnya, Tak Perlu Mengeluh Lagi Soal Penugasan
Tak Perlu Mengeluh Lagi Soal Penugasan
Diberikannya PT Pertamina untuk mengelola Blok Mahakam oleh Pemerintah awal tahun ini dinilai sejumlah pihak dapat mendongkrak penerimaan perseroan dan tentunya diharapkan bisa mengurangi keluhan terhadap penugasan dari negara.
Pengamat Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan dengan adanya potensi keuntungan dari pengelolaan sejumlah blok migas, seperti Blok Mahakam seharusnya pendapatan pertamina signifikan.