Penduduk Miskin Perdesaan Terus Menurun
“Arti dibalik angka ini, bahwa di perdesaan terjadi penurunan kemiskinan yang disertai dengan adanya penurunan ketimpangan pengeluaran yang lebih baik dari nasional,” ujar Ketut.
Terkait dengan angka inflasi bulan Juli 2018 yang dirilis BPS (1/8/2018) Ketut menjelaskan bahwa secara nasional sebesar 0,28% dan di perdesaan 0,82% tidak akan banyak berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin termasuk di perdesaan karena peningkatan harga pangan yang memberikan andil besar pada inflasi tersebut hanya bersfiat sementara.
“Saat ini pasokan pangan dari produksi dalam negeri terus bertambah sehingga tidak ada kekuatiran akan kurang,“ jelas Ketut.
Pada bulan Juli memang harga daging ayam ras dan telur sempat menyentuh Rp40.000/kg dan Rp30.000/kg dan saat ini sudah terus menurun dan stabil. Namun di beberapa komoditas pangan strategis justru memberikan andil terhadap menurunnya inflasi, seperti cabai merah, bawang merah dan bawang putih masing-masing 0,0222; 0,0525 dan 0,0045.
“Produksi pangan tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, maka ke depan sumbangan pangan terhadap inflasi diperkirakan akan berkurang,“ tegas Ketut.
Kestabilan harga pangan dan peningkatan daya beli masyarakat baik di perkotaan dan perdesaan saat ini juga dipengaruhi oleh jumlah produksi pangan khususnya jagung yang melebihi kebutuhan pakan sehingga biaya produksi daging ayam dan telur menjadi berkurang.
“Dengan demikian, berkurangnya kontribusi pangan terhadap inflasi diharapkan ke depan menyebabkan jumlah penduduk miskin baik secara nasional maupun di perdesaan akan terus menurun,” ucap Ketut.