Resep Sukses PPKM Level 2, dr. Reisa: Waspada Bersama

Dokter Reisa Broto Asmoro.
Sumber :
  • Instagram @reisabrotoasmoro

“Ingat-ingat lagi asal-usul fasilitas sanitasi dan kebersihan lingkungan tersebut. Tempat cuci tangan di tempat umum bukanlah hiasan, dekorasi atau ornamen ruang publik, melainkan untuk memastikan kita dapat membunuh virus dan kuman lainnya di tangan kita, setiap saat dan sesering mungkin. Dengan demikian, penularan dapat ditekan semaksimal mungkin,” tegasnya.

img_title Pemudik Diincar Penjahat 'Gaib' Jelang Idul Fitri

Koordinator PPKM Jawa-Bali Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan sebelumnya telah mengatakan bahwa tren kasus konfirmasi harian secara nasional telah mengalami penurunan. Secara spesifik, di Jawa Bali turun hingga 96% dari titik puncaknya pada 15 Juli yang lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dr. Reisa, catatan pemerintah pusat pada minggu kedua September 2021 juga menunjukkan bahwa jumlah kasus aktif sudah turun di bawah 100.000 kasus. Bahkan pada penerapan PPKM hingga minggu lalu, pemerintah menurunkan status Provinsi Bali dari level 4 menjadi level 3.

img_title Alhamdulillah, Jusuf Kalla Sebut Ramadhan Tahun Ini Masjid Penuh Jamaah

“Tentu ini progres yang sangat menggembirakan, tapi kehati-hatian juga harus dijaga,” ujar dr. Reisa.

Sementara itu, dr. Reisa mengatakan bahwa wilayah aglomerasi seperti Jabodetabek, Bandung Raya, Semarang Raya, Solo Raya, serta Gerbang Kertasusila di Jawa Timur, tidak dapat sendirian bekerja mempertahankan status level 2 mereka.

img_title Gelar Program Mudik Certified, Mobbi Jaminkan Asuransi Kecelakaan Rp100 Juta

Berdasarkan pengamatan Komite Penanganan COVID?19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) serta mitra kerjanya, seperti UNICEF dan WHO Indonesia, perkembangan kasus COVID-19 di Kota Jakarta Pusat, Kota Semarang dan Kota Bandung sangat ditentukan oleh wilayah satelitnya. 

Misalnya, Depok dan Bogor untuk Jakarta, Kendal dan Kabupaten Semarang untuk Semarang, dan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cimahi dan Cianjur untuk Bandung.

“Contohnya di Semarang, masih rendahnya mobilitas malam hari juga diperlihatkan di Kendal. Sedangkan aktivitas malam di Bandung juga sangat terpengaruh pergerakan warga sekitarnya, termasuk warga Jakarta yang masuk ke Bandung,” terang dr. Reisa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Untuk itu, Duta Adaptasi Kebiasaan Baru ini menekankan sekali perlunya menghindari sikap egois dalam melakukan mobilitas, terutama malam hari. Masyarakat diajak untuk melakukan skrining pribadi dengan mengajukan tiga pertanyaan mudah kepada diri sendiri sebelum bepergian.

“Satu, apakah saya fit untuk lakukan perjalanan ini? Dua, apakah penting sekali tujuan perjalanan saya ini? Tiga, apakah sangat mendesak untuk membawa orang lain atau menemui orang lain dalam perjalanan nanti?” saran dr. Reisa.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut