Kinerja APBN Indonesia Terus Membaik Hingga Februari 2024

Kinerja APBN terus meningkat
Sumber :
  • Bea Cukai

VIVA – Hingga Februari 2024, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia terlihat melanjutkan tren positifnya dari tahun sebelumnya dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil. Berdasarkan data hingga 31 Januari 2024, pendapatan negara terealisasi sebesar Rp215,5 triliun, atau sekitar 7,7% dari target APBN. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp184,2 triliun, yang setara dengan sekitar 5,5% dari target APBN. Dengan demikian, surplus anggaran mencapai Rp31,3 triliun atau sekitar 0,14% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

img_title DSI Resmi Diluncurkan, Bos Danantara Pastikan Regulator Ekspor Sebelumnya Tetap Berperan

Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan, Encep Dudi Ginanjar menegaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2024 diperkirakan akan terus melambat akibat tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi yang beragam, ekonomi Indonesia tetap persisten, tangguh dan optimis. “Dengan kinerja APBN yang on track dan optimis dan didukung oleh permintaan domestik yang kuat, konsumsi yang stabil, dan investasi yang mendukung kelangsungan aktivitas ekonomi, kami juga optimis pereknomian Indonesia dapat terus tumbuh.” Kinerja APBN yang baik terus diupayakan untuk memberikan stimulus bagi perekonomian nasional dengan mendorong akselerasi transformasi ekonomi yang lebih inklusif, lebih hijau, dan berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dari segi penerimaan kepabeanan dan cukai, hingga 31 Januari 2024 Bea Cukai telah mengumpulkan Rp22,9 triliun, atau sekitar 7,1% dari target APBN. Meskipun terjadi penurunan sebesar -5,0% (yoy), tetapi pola realisasi masih sejalan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika dirinci penerimaan cukai mencapai Rp17,9 triliun, bea masuk Rp3,9 triliun, dan bea keluar sebesar Rp1,2 triliun.

img_title Danantara Umumkan Formasi Direksi dan Komisaris DSI, Simak Daftar Namanya

Penerimaan dari cukai sebesar Rp17,9 triliun (7,3% dari target APBN), mengalami penurunan sebesar -5,1% (yoy) karena perubahan pola pelunasan cukai hasil tembakau yang jatuh tempo pada awal Januari 2024 dialihkan menjadi Desember 2023. Bea masuk terkumpul sebesar Rp3,9 triliun (6,7% dari target APBN), mengalami penurunan sebesar -5,8% (yoy) karena faktor penurunan tarif efektif dari 1,48% menjadi 1,38%, peningkatan utilisasi free trade agreement (FTA) dari 34,7% menjadi 35%, dan nilai rata-rata kurs USD sebesar Rp15.526. Sementara itu, bea keluar terkumpul sebesar Rp1,2 triliun (6,6% dari target APBN) yang mengalami pertumbuhan sebesar +0,6% (yoy), dipengaruhi oleh relaksasi ekspor komoditas tembaga dan penurunan harga produk sawit.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut