Tutty Alawiyah

Tutty Alawiyah
Sumber :
  • anataranews.com

VIVA.co.id – Tutty Alawiyah Abdullah Syafi'i lahir di Jakarta, 30 Maret 1942 dari pasangan KH. Abdullah Syafi'ie dan H. Rogayah. Ia menikah dengan H. A. Chatib Naseh dikaruniai 4 orang anak; Moh. Reza Hafiz, H. Dailami Firdaus, SH. LLM. MBA, Dra. H. Nurfitria Farhana, Lily Kamalia Ihsana, SE, dan Syifa Fauzia. 

Mahfudz Siddiq

Sejak kecil Tutty Alawiyah sudah mengukir banyak prestasi yang mengagumkan. Pada usia 7 tahun, Tutty sudah mahir membaca Alquran. Pada tahun 1951, usia masih 9 tahun, Tutty mendapat kesempatan membaca Alquran di Istana Negara. Ia diundang BKOI, sebuah organisasi Islam, yang mengadakan acara pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman Presiden Soekarno.

Pada saat itu, ia sudah dikenal sebagai qari'ah cilik yang sudah sering menyanyikan lagu qasidah mulai dari di depan kelas, acara pernikahan, hingga mendampingi ayahnya mengajar di masjid-masjid terdekat di sekitar Jakarta.

Sinyo Harry Sarundajang

Tak hanya dari ayah, Tutty belajar. Ia juga banyak belajar dari ibunya. Ibunya adalah seorang ustadzah dan qoriah, Tutty dapat mahir dalam membaca Alquran lengkap dengan tajwid dan lagunya. Tutty kecil kebagian peran membaca beberapa ayat suci Alquran di kala ibunya sedang mengajar di kampung-kampung. 

Kemampuannya menulis tulisan Arab Melayu (huruf Jawi) juga didapat dari ibunya. Sekadar iseng sambil mengasah kemampuan, ia dan kakaknya, H. Muhibbah mendengarkan lagu di radio seperti pencipta dan penyanyi lagu keroncong

Bahlil Lahadalia

Saat menginjak ke kelas dua di madrasah ibtidaiyah,Tutty juga masuk sekolah umum di Sekolah Rakyat. Meskipun ayahnya keberatan, Tutty tetap bersikeras untuk bersekolah di sana karena melihat sepupunya yang lebih tua dua tahun darinya sudah bersekolah di sana. Akhirnya, Tutty bersekolah di dua tempat, di SD Slamet Riyadi dan Ibtidaiyah As-Syafi'iyah.

Pada tahun 1951, ibunda tercinta, H. Rogayah meninggal dunia. Tutty Alawiyah dapat melewati masa-masa sedihnya dengan kegiatan super sibuk. Ia diundang membaca Alquran di mana-mana, menulis puisi dan artikel yang dimuat di beberapa surat kabar ibukota, memberikan kursus-kursus, dan berceramah di depan umum.

Saat usianya 10 tahun, Tutty yang sudah mampu mengetik dengan kecepatan 260 ketukan per menit ini memberikan kursus membaca dan menulis huruf latin kepada beberapa wanita di daerah Pancoran, Jakarta. Seminggu dua kali, Tutty ditemani Dahlia sepupunya, bersepeda bonceng-membonceng ke rumah Ibu Halimah untuk mengajar dan mendapat upah beberapa rupiah yang kemudian mereka bagi dua.

Pengalamannya memberikan kursus, pada usia 13 tahun mampu mengajar secara tetap dengan membuka 3 kursus yaitu Kursus Banat As-Syafi'iyah, diisi dengan pelajaran agama, pelajaran Maulid Nabi, dan membaca Alquran, dengan murid 200 orang lebih. Kursus Umahat As-Syafi'iyah, khusus untuk ibu-ibu yang ingin mendalami agama, dengan murid 100 orang (2 kelas) dan yang terakhir, Kursus Tilawatil Quran yang diikuti 40 orang. Kursus ini terus berlanjut hingga 1980

Tiga tahun kemudian, kakaknya H. Muhibbah meninggal dunia. Sejak saat itu, ia dipercaya secara penuh memimpin Majelis Taklim Kaum Ibu As-Syafi'iyah dan melanjutkan pengajian setiap Sabtu pagi di Masjid Al Barkah.

Cita-cita Tutty pada akhirnya tercapai. Sang ayah melihat bakat Tutty dalam berpidato, membaca Alquran, dan mendendangkan lagu-lagu qasidah akhirnya mengajak Tutty berdakwah di Singapura dan Malaysia tahun 1959. 

Di Singapura ia dipercaya oleh Bapak Sugih Arto, Konsulat Jenderal Republik Indonesia untuk berceramah di depan masyarakat Indonesia yang datang lebih dari 500 orang. 

Saat berceramah di Singapura, ia mendapat pengalaman pertama yang tak terlupakan, terpaksa berceramah tanpa teks karena naskahnya ketinggalan. Sejak saat itu setiap ceramah tidak lagi menggunakan catatan tertulis yang baku, kecuali dalam seminar atau pidato resmi. Kaset-kasetnya mulai banyak beredar di toko-toko kaset Singapura. Bahkan ada pula yang menamai anaknya dengan nama Tutty Alawiyah dan Abdullah Syafi'ie.

Saat menginjak umur 18 tahun, Tutty menikah dengan Ahmad Chatib Naseh dan dikaruniai 5 orang putra-putri. Walaupun masih duduk di bangku SMA dengan kesibukan yang bertumpuk, Tutty dapat mengurus keluarganya, seperti layaknya ibu rumah tangga lainnya dan berhasil meraih kesarjanaan dari Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sang ayah meninggal pada 3 November 1985, Saat itu, seluruh masyarakat As-Syafi'iyah, masyarakat aktor, Seniman Betawi, seluruh jamaah, pelajar dan pendengar setia radio berkabung. 

Atas jasa ayahnya yang besar dalam bidang pendidikan Islam, pemerintah menganugerahkan penghargaan Bintang Maha Putera Pratama, dan Pemerintah Khusus Ibukota menggunakan namanya sebagai nama jalan utama menggantikan Jl. Lapangan Roos dan Kampung Melayu Besar dengan nama Jl. KH.Abdullah Syafi'i.

Tutty memiliki banyak pengalaman dalam berdakwah. Ia telah  mengunjungi 63 kota besar di 23 negara demi kepentingan berdakwah dan kegiatan sosial mengharumkan namanya sehingga ia layak diberi gelar doktor honoris causa bidang dakwah Islam dari IAIN Syarif Hidayatullah dan gelar profesor dari Federation Al Munawarah, Berlin Jerman.

Tutty Alawiyah memang dilahirkan untuk berdakwah. Tutty ingin terus berkarya meneruskan pesan sang ayah untuk hidup berguna bagi masyarakat, kaum duafa, dan wanita. Ia ikuti pesan ayahnya terjun dalam bidang dakwah, sosial, dan pendidikan.  Dalam dunia politik, ia juga punya nama di Partai Golkar. 

Di akhir Orde Baru, ia ditunjuk oleh presiden Soeharto menjadi Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Tak lama Soeharto lengser, Tutty tetap ditunjuk menjadi menteri yang sama oleh Presiden BJ. Habibie. 

Kehidupan Tutty  tak lepas dengan berdakwah. Memasuki usia senja, ia tetap energik menyampaikan pesan-pesan ilahi ke pada ummat.  Pada 4 Mei 2016, tepat usia 74 tahun, Tutty Alawiyah dipanggil kepangkuan Allah SWT.

BIODATA

Nama Lengkap               : DR (honoris cauasa). H. Tutty Alawiyah AS
Tempat Tanggal Lahir     : Jakarta, 30 Maret 1942
Agama                         : Islam
Jabatan                         : Menteri Negara Peranan Wanita 1998-1999
   
KELUARGA  
Nama Suami                 : H. A. Chatib Naseh
Anak                           : Moh. Reza Hafiz
    H. Dailami Firdaus, SH. LLM. MBA
    Dra. H. Nurfitria Farhana
    Lily Kamalia Ihsana, SE
    Syifa Fauzia

                                  
PENDIDIKAN

  • Ibtidaiyah As-Syafi'iyah, Jakarta
  • SD Slamet Riyadi, Jakarta
  • Tsanawiyah As-Syafi'iyah, Jakarta
  • Aliyah As-Syafi'iyah, Jakarta
  • Sarjana S-1 Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
  • Gelar Doctor Honoris Causa dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarief Hidayatullah Jakarta, 17 Februari 2001

 

KARIER

  • Anggota pendiri Perguruan Islam As-Syafi'iyah / Yayasan Perguruan Tinggi As-Syafi'iyah (YAPTA)
  • Rektor Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA)
  • Menteri Negara Peranan Wanita Kabinet Pembangunan VII 1998
  • Menteri Negara Peranan Wanita (Menperta) Kabinet Reformasi Pembangunan
  • Anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) utusan Golongan Tahun 1999-2004
  • Ketua Internatonal Muslim Women's Union (IMWU) Indonesia
  • Direktur Eksekutif International Muslim Women's Union (IMWU) untuk Asia
  • Sekretaris Jenderal Perhimpunan Masyarakat Madani (PMM)
  • Presiden Komisaris PT. Adhisa Jaya Pastika
  • Presiden Komisaris PT. Kharisma Redisa Utama
  • Pendiri/Penanggung jawab Pesantren Khusus yatim As-Syafi'iyah
  • Ketua Umum Majelis Taklim Kaum Ibu (MTKI) As-Syafi'iyah
  • Pendiri/Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT), sampai sekarang
  • Ketua Umum Yayasan Al Hurriyah
  • Ketua Umum Yayasan Alawiyah
  • Anggota MPR RI Periode 1992-1997 / Periode 1997-2002
  • Anggota Badan Pekerja (BP) MPR RI Ad Hoc II 1997/1998
  • Wakil Ketua Dewan Penasehat Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI)
  • Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI)
  • Wakil Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Pusat
  • Wakil Ketua Gerakan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI)
  • Anggota Dewan Pembina BAMUS BETAWI (Badan Musyawarah Masyarakat Betawi)
  • Penasehat Pengurus Wanita Betawi
  • Anggota Dewan Pers Indonesia
  • Anggota CIDES (Center for Information and Development Studies)
  • Anggota Pengurus/Pembina Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ) DKI Periode 1972-1985
  • Pendiri Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI)
  • Anggota Pleno Majelis Ulama Indonesia (MUI)
  • Pemimpin dan Pembimbing Jamaah Haji dan Umroh sejak tahun 1988-1997 (10 kali berturut-turut)
  • Direktur Utama Radio Alawiyah
  • Anggota Forum Rektor
  • Ketua Umum International Muslim Women Union chapter Indonesia (1998-2004)
  • Ketua Penyelenggara/Penanggung Jawab Acara
  • Dasawarsa BKMT di Stadion Utama Senayan 1991 (120.000 Orang)
  • Gelar Akbar Majelis Taklim Tasyakur 50 Tahun Kemerdekaan RI, 26 Agustus 1995 di Stadion Utama Senayan (140.000 Orang)
  • Gelar Budaya Islam 3 hari di Masjid Istiqlal Jakarta
  • Gema Zikir & Takbir di Silang Monas - Jakarta Tanggal 29 Januari 1998
  • Silaturahmi Akbar dan Rakernas IV BKMT, tanggal 20 Februari 1999 di Stadion Utama Senayan Jakarta (100.000 Orang)

 

PENGHARGAAN

  • Bintang Mahaputra Adhi Pradana dari Presiden Republik Indonesia Bapak B.J. Habibie
  • Penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial dari Pemerintahan R.I yang disematkan oleh Presiden RI Bapak H. Muhammad Soeharto, tanggal 21 Desember 1995 di Daerah Istimewa Aceh
  • Penghargaan Dari Angkatan 45
  • Penghargaan dari Lembaga Islam Bangkok -Thailand
  • Life Time Membership For Moslem Women's Federation Of Southem Africa
  • Patron of the Tuan Yusuf Learning Centre in Southern Africa
  • Penghargaan dari Presiden Iraq
  • Penghargaan dari Ratu Rania Abdullah, Jordania
  • Penganugerahan Gelar Profesor dari Federation Al Munawwarah, Berlin Jerman
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya