Suatu Hari Bersama Ayah dan Teman-temannya
- http://www.talkmen.com
Alasan utama ayah saya mengajak ke tempat berendam air panas adalah karena di tempat itu ada lapangan besar yang bisa dijadikan tempat latihan menyetir. Kebetulan tahun ini kalau dapat berkat saya mau ambil satu mobil, nah, ayah saya bilang sebelum mobilnya datang saya sudah harus bisa nyetir.
Saya sih mau-mau saja, tapi ya itu, saya sedikit kagok pergi sama om-om yang umurnya sudah jauh lebih tua di atas saya. Kadang tidak nyambung alur obrolannya. Belum lagi kalau ketemu mereka, pertanyaan yang pasti ditanyain ke saya adalah, "kapan kawin?”
Kakak saya saja tidak pernah ditanyain seperti itu, giliran ke saya ditanya kapan kawin melulu. Dan akhirnya kita (4 orang tua + 1 pemuda ganteng) berangkat juga menuju sebuah tempat berendam air panas. Jangan bandingin tempat berendam air panas itu seperti yang ada di Jepang atau kayak di serial Korea gitu. Tempatnya cuma kolam besar yang sangat panas. Terakhir saya nemenin ayah saya ke pemandian air panas adalah sekitar 3 bulan lalu dan panas kolam air panas belerang itu mencapai 60 derajat celcius. Ditambah saya berendam pada jam 1 siang saat matahari lagi terik-teriknya.
Setelah 3 jam perjalanan akhirnya kita sampai juga ke tempat pemandian yang dimaksud. Tempatnya bagus, harganya lumayan tinggi buat ukuran kolam rendam air panas (Rp65 ribu/orang) dan setelah ganti baju akhirnya saya mulai berendam. Nah, ini dia yang saya suka. Airnya pas, panasnya wajar, bikin betah buat berendam. Sambil menikmati udara sore yang dingin, saya duduk dekat pancuran air panas. Badan menjadi rileks, pikiran menjadi tenang, dan yang terpenting kalau kamu punya penyakit kulit, katanya sih habis berendam bakalan sembuh.
Setelah 1 jam berendam akhirnya saya menyudahinya. Mandi sebentar, saya kemudian duduk menunggu ayah dan teman-temannya mandi. Setelah selesai, saya bertanya, "Pak, jadi kita belajar nyetirnya?" dan dijawab ayah saya, "nanti lagi aja ya dek, sudah kesorean ini."
Di perjalanan pulang, tiba-tiba temen ayah saya bilang kalau dia ingin nyobain sate biawak. Di sepanjang jalanan Subang memang terkenal dengan sate biawak dan hampir di sepanjang jalan penuh dengan warung sate biawak. Yang saya bingung, kok bisa-bisanya itu si Om mau nyobain sate biawak. Saya saja tidak tahu biawak itu bagaimana bentuknya.