Selamat Tinggal Egois, Selamat Datang Bahagia

Ilustrasi
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Dalam hidup semua orang tentu ingin meraih kebahagiaan. Tapi yang aku tahu, bahagia bukanlah kita raih melainkan kita ciptakan sendiri. Dengan kata lain, kita perlu usaha agar bahagia menjadi milik kita dan inilah yang aku lakukan untuk mewujudkan bahagiaku. Secara sederhana mungkin dapat diterjemahkan kalau aku meninggalkan keegoisanku.

img_title 4 Kebiasaan soal Uang yang Sering Terbawa hingga Dewasa karena Masa Kecil Sulit

Apakah egois itu? Egois adalah sikap yang mementingkan diri sendiri, artinya kepentingan pribadinya yang harus didahulukan tanpa melihat situasi dan kondisi. Pokoknya dia harus didahulukan, diutamakan, dan dituruti. Dengan belajar meninggalkan sikap egois, perlahan aku merasa bahagia tercipta dalam hidupku. Berikut adalah tiga hal sederhana yang aku terapkan untuk belajar meninggalkan keegoisanku:

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

1. Meninggalkan perasaan egois bahwa aku adalah orang yang berpengaruh atau merasa lebih kaya.

img_title Kejagung Ungkap Rp5 Miliar Dikembalikan Ferry Hongkowirang, Disebut Bagian dari Rp40 Miliar Tan Kian

Selama ini jika aku dalam sebuah antrean, aku merasa diriku berpengaruh dan lebih harus diutamakan dari orang lain dan seharusnya aku mendapat perlakuan khusus. Aku lupa bahwa sebenarnya di atas langit masih ada langit. Mengapa aku merasa diri ini begitu harus dihormati sehingga harus diprioritaskan?

Kadang aku marah hebat saat ada orang menyerobot antreanku. Bahkan aku mengajaknya bertengkar tanpa melihat situasi ramai dan menjadi tontonan orang. Mengapa aku begitu egois? Jika ada orang menyerobot antrean, selama kita lihat orang tersebut memang buru-buru, mengapa kita tidak sedikit mengalah? Mengapa kita tidak belajar berpikir mungkin orang tersebut memang perlu segera menyelesaikan urusannya dalam antrian tersebut.

img_title Kejagung Blak-blakan Punya Cukup Bukti Pemerasan Febrie Adriansyah, Buktinya Sudah Sita Uang

Mungkin orang tersebut tidak punya etika karena tanpa permisi menyerobot seenaknya. Di situlah kerendahan hati kita sedang di uji agar meletakkan egois kita untuk dihargai dan diutamakan. Kita letakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri, sebetulnya kita juga ingin cepat selesai antreannya dan tiba giliran kita, tapi kita harus belajar menghargai kepentingan orang lain.

Dengan selalu berpikir kalau orang tersebut lebih perlu untuk lebih didahulukan, maka hati kita akan tetap tenteram, damai, dan tanpa amarah menguasai. Cobalah dan rasakan hasilnya, hatimu yang panas perlahan akan menjadi hangat, penuh pengertian kepada kepentingan orang lain.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut