Cinta Tak Lekang oleh Waktu
- U-Report
Galih tersenyum, ia memakluminya, ini kesalahanya dan entahlah bisa diperbaiki lagi atau tidak. Mereka menelusuri jalanan berharap ada kontrakan kosong dekat-dekat kantornya. “Tinggal di apartemen saja ya, aku punya tidak terpakai, kamu bisa memakainya untuk sementara waktu, sambil mencari kontrakan baru,”ujar Galih sambil menatap Kara sekilas yang duduk di sampingnya, ia tahu persis jawaban yang akan diterimanya.
“Aku tidak mau merepotkanmu.” “Aku tidak merasa kau repotkan, hanya membantu sampai kau mendapatkan rumah sewaan baru, apartemenku tidak jauh dari kantor, sesekali aku pakai kalau pulang malam saja.” Kara terdiam, dan sekilas dia menatap Galih, kemudian dia menatap jalanan yang padat.apa boleh buat, malam ini Kara diantar Galih pulang, dia sekalian berkemas barang dan langsung mengangkut barang-barangnya, tidak banyak hanya pakaian dan beberapa barang.
Apartemen yang rapi, tanpa penghuni, Kara meletakan pakaianya di lemari, dia begitu gampangan sekali menerima tawaran dari Galih, tapi apa boleh buat, ini adalah cara satu-satunya dia bisa bekerja di kota. Besok-besok dia harus kembali mencari kontrakan baru. Sudah hampir seminggu Kara bekerja satu ruangan dengan Galih tanpa banyak bicara dan kadang hanya bertegur sapa.
Suatu hari, Kara makan siang dengan beberapa rekan kerjanya. Mereka berkumpul di satu meja. “Eh Kara, enak banget kamu bisa seruangan dengan duda ganteng itu. Duda baru kawin seminggu langsung ditinggal sama istrinya, istrinya kan punya penyakit leukemia, dia meninggal setelah menikah di rumah sakit. Sudah mau setahun dia menduda,” ujar temannya itu sambil menyikut Kara yang hampir tersedak.
Kara tampak kaget, dia tidak menyangka kalau Galih itu duda, Kara pikir mereka baik-baik saja. “Duda? Dia? Pak Galih itu? tanya Kara menatap teman kerjanya tidak percaya. Dia mengangguk mengiayakan dan akhirnya Kara tahu yang sebenarnya terjadi, lelaki itu Galih ternyata meninggalkanya demi wanita yang menderita penyakit leukemia dan menikahinya bukan semata-mata mencintainya, tetapi karena permintaan terakhirnya.
Sudah hampir sebulan Kara bekerja, dia sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan kantornya, dan sore ini Kara duduk di kursinya, ia menatap Galih, entah kenapa hari ini dia ingin sekali menatap lama lelaki itu. Galih menatapnya lekat. “Dari tadi kamu menatapku saja, ada yang aneh di wajahku?” Galih mendekatiya. Kara tersenyum. Tidak ada, hanya ingin melihatmu saja,” jawab Kara.