Cinta Tak Lekang oleh Waktu
- U-Report
“Aku sudah mendapatkan rumah sewaan baru, tadi Maya mengirimkan gambarnya lewat bbm, tampak nyaman, dan aku suka.” “Apartemen itu milikmu Kara, tempatilah,” jelas Galih sambil duduk di samping meja Kara. “Ga bisa Galih, kamu masa lalu aku, aku tak mungkin selalu menjadi bayang-bayangmu.”
“Kamu masa depan aku dulu maupun sekarang.hanya perlu waktu unuk merubah segalanya, perlu kesabaran, ketabahan,” ucap Galih lembut, dia menatap Kara yang tampak kaget. “Aku dan kamu selalu ditakdirkan untuk bersama Kara, dulu dan sekarang.” Kara hanya terdiam, mendengar kisah Galih dari teman-teman kantornya membuatnya hanya bisa diam.
"Kenapa kamu ga jawab pertanyaan aku dulu, waktu aku menanyakan wanitamu?” Kara balik menatap Galih. “Tidak aku jawab juga pasti teman barumu memberitahumu siapa aku sekarang.” ”Benarkah cerita mereka tentangmu?”
“Ya, bukan semata-mata aku meninggalkanmu karena tidak mencintaimu Kara, aku meninggalkanmu karena Lany waktu itu sangat membutuhkan aku, spirit aku, dia begitu mencintai aku, aku tidak tahu kalau dia mencintaiku sejak kami masih kanak-kanak, dia tetanggaku, teman mainku, aku diberi tahu oleh keluarganya, kalau permintaan terakhirnya menikah dengan orang yang dicintainya, apa boleh buat, kami berdua menikah di rumah sakit, setelah menikah besoknya dia koma, dan meninggal tepat setelah seminggu pernikahan.”
Galih menceritakan apa yang dialaminya dengan wanitanya yang bernama Lany. “Aku juga sangat mencintaimu, kamu tahu begitu terpuruknya aku tanpamu, menderitanya aku tanpa melihatmu lagi.” Kara mulai terisak. “Aku tahu kamu kuat, tapi tidak untuk Lany. Aku tahu apa yang aku lakukan salah di matamu, maafkan aku meninggalkanmu begitu saja, tapi ingatlah apa yang aku lakukan untuk membahagiakan seseorang yang sedang menunggu ajalnya tiba, dan hanya itu yang aku bisa lakukan.”
“Lalu membiarkanmu menderita adalah hal yang menyakitkan bagiku Kara, aku sangat menyesal, tapi aku bahagia bisa melihatmu lagi, duduk di sini bersamaku, melihatmu tertawa bersama teman kantormu yang lain, melihatmu berkutat dengan komputermu, melihatmu menggigit-gigit ujung pulpenmu, itu sudah sangat membuat aku bahagia Kara.”