Belajar dari Laba-laba
- U-Report
Pertanyaannya tadi membuatku sadar jika ia begitu terpuruk. Tadinya kupikir ini sama seperti yang sudah-sudah. Ditolak adalah hal biasa baginya. Paling dua atau tiga minggu luka hatinya mengering. Selanjutnya ia memulai lagi perburuannya. Menembak gadis. Ditolak! Berburu lagi. Ditolak lagi! Terus seperti itu sampai mendapatkan hasil buruan. Jika tidak salah hitung ini penolakan ketiga yang ia terima.
"Maksudku, apakah mungkin aku masih bisa punya pacar setelah fakta membuktikan kalau aku selalu ditolak? Atau memang aku tak pantas memiliki kekasih?" Ruslan menarik napas panjang. "Apa itu artinya menyerah?" tanyaku. Serta-merta ia bangkit, lalu berdiri di hadapanku seperti orang marah. Tatapannya tajam menghujam mataku. "Aku lelah, bro! Aku sudah tidak punya kekuatan. Tak cuma hati ini yang remuk, tapi harga diriku juga sudah hilang!"
Kuletakkan batang rokok di asbak. Dengan lembut kutepuk bahu Ruslan. "Kamu itu istimewa. Belum pernah kutahu ada orang setangguh dirimu," ucapku. "Omong kosong!" Ruslan mengibaskan tanganku dari bahunya. "Jika aku istimewa kenapa mereka menolakku?" Kutarik napas dalam-dalam, berpikir keras apa yang harus kulakukan untuk meredam emosinya. Pandanganku tertuju ke cangkir kopi di atas meja. Dingin dan kehilangan gairah, hanya tinggal air hitam tanpa makna.
Diam-diam rasa bersalah menyergapku. Aku punya andil atas terpuruknya Ruslan. Masih jelas pada ingatanku ketika ia datang di tempat ini dua bulan lalu, ia datang membawa segepok kekecewaan akibat ditolak gadis incarannya. Aku yang iba kepadanya berusaha menghibur hatinya.
Kutanam di otaknya bahwa ditolak adalah jadian yang tertunda. Kalimat itu aku dapat dari status facebook. Tak disangka, itu berhasil membuatnya bangkit. Ia berubah menjadi pejuang tangguh yang selalu terluka, tapi tetap berjuang untuk mendapatkan cintanya. Namun, aku sadar bahwa hati manusia tidak terbuat dari baja. Ada kalanya hati terkoyak. Semakin banyak lukanya, semakin pedih. Sekarang yang harus aku lakukan adalah mengobati lukanya.
"Ah! Kamu memang cuma pandai bicara. Kamu hanya ingin membuatku senang. Kamu bilang aku istimewa. Itu kamuflase. Aku hanya butuh kejujuran. Sekarang jawab pertanyaanku, apakah aku masih layak mendapatkan cinta?" ucap Ruslan seraya mengepalkan tinju di udara. Kutatap lekat-lekat mata Ruslan, "Kamu istimewa. Kenapa? Karena kamu bagaikan karang. Tidak semua laut memiliki karang. Dan sesuatu yang istimewa itu mahal. Tiga gadis yang menolakmu itu tak sanggup menggapaimu karena kamu mahal. Kamu istimewa!" Ruslan tak bergeming.