Belajar dari Laba-laba
- U-Report
"Kamu memang bukan anak kecil, tapi kamu kalah hebat dengan laba-laba. Rumah mereka adalah yang terlemah, tapi tak lantas membuat mereka menyerah." Ruslan memandang sarang laba-laba di langit-langit. "Kamu malas membersihkannya?" tanyanya polos. "Arrgghh!" seruku kesal. Terbuat dari apa sebenarnya otak Ruslan sehingga sulit menangkap apa yang kumaksud. "Simple saja bro! Jelaskan dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jangan muter-muter! Aku sedang malas dengar ocehanmu."
"Baiklah, aku tak akan mengoceh. Aku cuma mau tanya, apakah menurutmu Allah tidak adil?" Ruslan diam. "Kenapa sarang laba-laba tidak terbuat dari baja agar tak mudah koyak?" Ruslan masih diam. Pandangannya mendarat di sarang laba-laba, tapi pikirannya melayang entah kemana. "Apakah laba-laba itu diciptakan secara sia-sia?" Ruslan memandangku sinis. Mukanya seolah ingin bilang bahwa ia muak dengan bualanku. "Tak perlu kamu ajari, aku tahu tak ada yang sia-sia dalam penciptaan alam semesta ini."
"Nah, itu kamu sudah tahu!" ujarku gusar. Namun, kulihat wajah Ruslan masih muram. Tatapannya masih sinis kepadaku. "Lalu apa hubungannya laba-laba denganku?" Gubrakk!! Tiba-tiba kursi kayu yang kududuki ambruk bersama tubuhku. Sial! Aku lupa membetulkan bagian bawahnya yang sudah rusak. Herannya Ruslan tak bereaksi. Ia tak bergeming, memandangku tanpa rasa iba sama sekali. Yang membuatku kesal bukan hanya karena ia tak punya empati, tapi karena otaknya tak jalan.
Saat ia bilang bahwa tak ada yang sia-sia dalam penciptaan alam semesta, kupikir ia paham jika ia juga bagian dari alam semesta ini. Aku bangkit lantas menyingkirkan kursi lapuk yang telah membuat pinggangku keseleo. "Kamu lihat, aku tak berguna bukan? Saat kamu terjatuh aku tak bisa menolongmu." Ruslan mengangkat bahunya. Aku terpancing emosi. Kursi yang sudah kusingkirkan kuambil kembali, kuangkat tinggi-tinggi, kemudian kubanting. Brakkk! Kursi hancur. Empat kayu penopangnya lepas dari papan duduk dan sandaran. Begitu juga dengan kekesalanku yang lepas dari hati lantas menjadi amarah. Kesabaranku menguap dirongrong akumulasi kekecewaan terhadap kepongahan Ruslan. Setan yang tadi mendiami sel darah Ruslan kini mengekang akal sehatku.