Belajar dari Laba-laba
- U-Report
"Otak kamu gadaikan ke mana, hah?! Kamu tahu? Sarang laba-laba yang lemah itu pernah menutupi gua yang di dalamnya terdapat Rasulullah dan Abu Bakar. Kaum musyrikin yang mengejar-ngejar dan berniat membunuh mereka berpikir tak mungkin orang yang akan mereka binasakan berada di dalamnya, karena tidak mungkin dalam waktu yang singkat sarang laba-laba bisa menutupi gua tersebut. Allah menggunakan perumpamaan laba-laba untuk mementahkan logika manusia. Tak ada yang mustahil jika Dia berkehendak. Kenapa Allah menggunakan laba-laba? Kenapa tidak tutup saja gua itu dengan Kun Fayakun!? Karena Allah tidak secara ekstrem dalam memberikan tanda-tanda kekuasaannya. Dan Allah ingin menunjukkan bahwa laba-laba yang rumahnya paling lemah pun bisa bermanfaat. Bagaimana denganmu? Apakah kamu masih merasa tak berguna?"
Ruslan memandangku tanpa rasa takut sama sekali. Ia dengan santainya mengupil pada saat aku sedang dikuasai amarah. Ia mengacuhkanku. Menyebalkan! Bikin aku semakin emosi saja. "Aku sudah tahu!" ucapnya datar. Ia bangkit, lantas memapahku untuk duduk di kursi yang tadi di dudukinya. Karuan saja aku menepisnya. "Terus apa maksudmu datang ke rumahku, hah?" tanyaku dengan napas terengah-engah. "Jika sudah tahu, keluar dari sini!"
"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday. Happy birthday. Happy birthday to you." Beberapa teman-temanku serempak menyanyikan lagu Happy Birthday. Satu di antaranya membawa kue ulang tahun yang di tengahnya terdapat lilin menyala. Oh my God! Ternyata aku masuk perangkap kejutan mereka. Aku lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku. (Cerita ini dikirim oleh Akhmadalhasni)