Susahnya Terjebak Banjir
- U-Report
Ada reporter yang ngomong (suaranya terdengar jelas), "Bisa dilihat genangan air yang begitu tinggi di Boulevard. Nampak seorang warga harus mengungsi sambil menaiki mobil kepolisian, bla...bla...." sambil menunjuk ke arah saya dan diikuti dengan kamera-kamera lain yang juga menyorot saya. Sumpah, saya jadi semakin mirip pelaku kriminal dibanding korban banjir!
Pertama, saya enggak bawa tas besar kayak warga mengungsi. Kedua, gaya saya saat itu dengan bercelana jeans dan sneakers sungguh tidak mencerminkan korban banjir yang biasanya pakai celana pendek, kaos kutang, dan sandal. Dan yang bodohnya lagi, saat si mbak reporter sedang melihat ke arah saya, kamera juga menyorot ke arah saya, tiba-tiba sang kameramen memberi kode ke saya untuk melambaikan tangan dan saya nurut saja dengan dadah-dadah kayak anak alay.
Tidak lama setelah itu, mobil pun berjalan. Saya baru berpikir, "Bagaimana kalau mama saya di Bandung nonton dan melihat saya diangkut mobil polisi kayak begini?" Mama saya pasti langsung mikir, “Anak gue jauh-jauh ke Jakarta disuruh cari duit malah diangkut mobil polisi."
Setelah berjuang melewati banjir, akhirnya saya ketemu juga sama teman saya yang sudah menunggu di La Piazza. Kondisi saya sangat mengenaskan. Badan basah kuyup, sepatu basah, daleman basah, ponsel pun basah. Di apartemennya, saya mandi dan mengganti baju. Dari lantai 15 ini, saya melihat keadaan jalanan yang benar-benar parah gara-gara terendam banjir.
Saya melamun sebentar sambil berpikir, “Bagaimana coba kalau saya enggak dijemput oleh teman saya, sudah jadi gembel kali di jalanan. Saya langsung menelepon kakak saya dan menceritakan kesialan saya hari itu. Kakak saya cuma bisa tertawa ngakak mendengar cerita saya dan sejak hari itu, saya baru tahu rasanya kebanjiran itu seperti apa. (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)