Never Give Up
- U-Report
VIVA.co.id – Matahari malas membakar siang. Setelah tergelincir di arah barat ia membisu. Sementara awan terapung resah, menaungi langkah-langkah kakiku yang gontai. Pantofel bututku bergerak liar, menyusuri trotoar yang lebih tepat disebut kawasan pedagang kaki lima. Warung-warung tenda berjejer tak rapi.
Kebanyakan menjajakan makanan pengenyang perut dengan harga murah. Di antaranya, tempat tambal ban, kios rokok, dan pengecer bensin. Tiga perempat lebar trotoar dimakannya, sisanya diperebutkan antara pejalan kaki dan motor yang terparkir liar.
Aku yang seharusnya berhak atasnya, justru harus mengalah. Sesekali aku turun ke jalan raya yang dipenuhi lubang-lubang menganga. Sungguh ironi. Jalan akses ke kawasan industri kondisinya sangat mengenaskan. Hampir sebagian aspalnya mengelupas. Sejauh mata memandang seperti jerawat yang tumbuh di wajahku. Bahkan lebih parah.
Setiap hari truk-truk besar berlomba merusaknya. Aspal yang tergerus menunggu hujan menyapunya ke selokan yang bersampah. Tak ada kabar pasti kapan akan diperbaiki. Isu yang berkembang katanya, jalan ini akan dibeton. Entah kapan, aku tak peduli. Pabrik-pabrik itu juga tak peduli denganku. Mereka hanya mementingkan laba. Tak peduli limbah dan polusi meracuni warga sekitar. Kawasan industri ini sudah berdiri ketika aku lahir.
Kini ketika aku membutuhkan pekerjaan, tak satu pun yang memberikannya. Aku berhenti di depan kios rokok. Mengambil selembar pecahan lima ribuan lalu menyerahkannya kepada lelaki di dalam gerobak melalui lubang. Lubang itu berbentuk bujur sangkar, semacam jendela. Luasnya cukup untuk memasukan tubuhku ke dalam. "Roti satu, Pak!" kataku seraya menyerahkan uang kepada lelaki yang kuperkirakan berusia kepala empat.
Itu adalah uang terakhir yang aku punya. Aku membutuhkannya untuk membayar fotocopy ijazah. Huft! Fotocopy lagi. Membuat surat lamaran kerja lagi. Pasti ditolak lagi. Aku sudah bosan melakukan ini. Di antara puluhan bendel lamaran, hanya satu yang membuatku dipanggil untuk wawancara. Ketika itu rasanya seperti mendapat ikan kakap setelah memberi banyak umpan ikan-ikan kecil.
Aku melompat gembira. Tak henti-hentinya mengucap syukur. Kemudian malamnya dahiku kusungkurkan di atas sajadah. Memohon ampun atas keputusasaan yang pernah singgah di hatiku, juga menengadahkan kedua tangan, meminta kepada Tuhan untuk membuka hati tuan-tuan berdasi.