Never Give Up
- U-Report
Sepersekian detik mata kami saling bersirobok. Darahku berdesir. Ia lumayan cantik. Jilbab yang menutupi auratnya sangat serasi dengan wajah ovalnya. Belum puas kumemandangnya, ia terlebih dahulu berlalu dari hadapanku. Aku masih memerhatikannya sampai belokan menelannya. "Kenapa, cantik ya?" ledek Pak Yatin tanpa memandang ke arahku. Ia sedang sibuk menata nasi bungkus yang baru diterimanya. Aku tersipu malu.
Mungkin akan lebih malu jika wajah merahku tertangkap oleh bola matanya. "Namanya Lia. Rambutnya rontok. Mungkin sekarang sudah gundul. Kamu mau sama dia?" Aku mengernyit. "Gundul? Memang kenapa bisa sampai begitu?" Pak Yatin memandangku. "Itu efek kemoterapi. Lia mengidap leukimia. Ia sering kesakitan. Hampir setiap malam ia merintih menahan sakit yang luar biasa. Saya tidak tega mendengarnya. Rumahnya berhadapan dengan rumahku. Makanya saya sering tidur di sini.”
Mulutku menganga mendengar penjelasan Pak Yatin. Gadis belia sepertinya menderita penyakit yang mematikan. "Kasihan sekali ya, Pak?" Pak Yatin kembali duduk di sebelahku. "Lia tahu hidupnya tidak lama lagi. Tapi ia tak pernah murung. Ia tetap hidup normal. Sekolah, bermain, dan rajin membantu ibunya membuat nasi bungkus dan mengantarkannya ke warung-warung."
Belum ada satu jam berada di sini, aku telah mendapatkan pelajaran berharga. Hidup adalah proses. Seperti itulah yang aku simpulkan dari perjalanan hidup Pak Yatin. Jatuh bangun ia mengarungi hidup, tapi ia masih tegar menatap dunia. Begitu pula dengan gadis bernama Lia, aku belajar darinya tentang semangat hidup.
Mereka tidak pernah menyerah. Sungguh pelajaran yang sangat tak pernah kutemukan di buku sekolah. Bukankah hidup adalah belajar? Belajar sejak dari alam kandungan sampai ke liang lahat. "Kamu melamar kerja di pabrik apa?" Tanya Pak Yatin. "Semua pabrik di kota ini sudah saya masuki," jawabku. "Ini baru awal. Kota lain belum saya taklukan. I will fight till the end and never give up." (Tulisan ini dikirim Akhmad Al Hasni, Kendal, Jawa Tengah)