Reformasi di Persimpangan Jalan
Dan dalam perkembangannya, media massa menjadi industri yang menggiurkan dan digunakan sebagai alat propaganda yang masif kepada masyarakat sesuai selera kepentingan pemilik modal atau saham media massa tersebut. Tren saat ini, media massa juga menjadi rujukan untuk melakukan proses rekruitmen kepemimpinan dan politik. Perlahan menghilangkan pandangan tradisional rekruitmen politik dan kepemimpinan yang tumbuh dan terdidik di tengah-tengah komunitas masyaraakat. Dengan perkembangan teknologi informasi sedemikian rupa akibat proses globalisasi yang semakin cepat menuntut akselerasi perubahan.
Perubahan teknologi informasi yang cepat ini melalui media massa tentunya membawa dampak, yaitu lahirnya gaya pop kultur yang menjangkiti anak-anak muda dan dewasa sehingga menciptakan budaya yang hedonis dan tidak sesuai dengan jati diri bangsa. Proses pengekangan transformasi sosial yang berjalan sekian lama dengan penerapan yang paradoks, sepihak dan kaku terhadap falsafah kebangsaan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan sistem ketatanegaraan yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaan tentu sangat berdampak terhadap pelaksanaan dan pemahaman falsafah Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI saat ini.
Sehingga perlu ada penggalakkan dan penerjemahan kembali tentang kepribadian jati diri bangsa sesuai dengan falsafah yaitu Pancasila. Dalam momen peringatan reformasi ke-18, perlu adanya refleksi kebangsaan. Sebagai bangsa Indonesia yang mengalami gradasi moral, krisis kepercayaan diri dan orientasi kebangsaan, dan dihadapkan oleh dua kutub besar dunia saat ini “Fundamentalisme Agama dan Fundamentalisme Pasar Bebas” dengan meneguhkan kembali semangat reformasi sesuai dengan rel falsafah kebangsaan yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI agar senantiasa tidak terjadi kebablasan dalam mendengungkan semangat memperjuangkan Reformasi.
Untuk itu, saya menyerukan kepada setiap kader Pergerakan Mahassiswa Islam Indonesia yang berada di kampus-kampus yang tersebar di seluruh pelosok negeri, untuk mengadakan apel kesetiaan Pancasila pada 1 Juni besok di kampus masing-masing untuk mempertegas kembali bahwa Pancasila tidak hanya sebatas dasar Negara tapi juga sebagai pegangan hidup bagi seluruh bangsa Indonesia. (Tulisan ini dikirim oleh Aminuddin Ma’ruf, Ketua Umum Pengurus Besar PMII)