Machfudi Menuai Rezeki dari Ban Bekas
- U-Report
Lewat cara itu, penghasilan Machfudi sedikit bertambah. Tidak bergantung dari hasil menambal ban saja tapi juga dari menjual ban-ban yang diperbaikinya. Meski di Jakarta masih kontrak rumah, namun penghasilan dari kerjanya makin membaik. Karenanya lelaki ini kemudian berani menikah dan memboyong keluarganya ke Jakarta. Anak-anaknya juga lahir di ibukota. Bisnis ban bekas Machfudi makin maju. Labanya berlipat dibanding menambal ban. Dia juga sudah tahu tempat pul ban bekas jadi bisa ambil ban bekas sesuai keinginannya.
Setelah diperbaiki, ban bekas tersebut dijualnya secara massal kepada para peminat. Bermacam alat mekanis yang dibutuhkan sudah bisa dibelinya guna menunjang kelancaran usahanya. Kehidupannya sekeluarga mulai ikut mapan pula. Sekitar enam tahun lalu, Machfudi berpikir walau hidup mulai mapan, tapi tekanan ekonomi di Jakarta juga kian berat. Anak-anak tambah besar akan menambah beban pula. Jika dibiarkan, suatu ketika bisa menjadi bencana buat keluarganya. Lantas diputuskannya untuk kembali ke desa sembari melanjutkan bisnis ban bekasnya.
Seluruh peralatan kerja yang dimiliki diboyong semuanya. Akhirnya Machfudi sekeluarga pulang ke desa. Bisnis ban bekas tetap dilanjutkan. Sebulan sekali dipesannya berton-ton ban bekas dari Jakarta. Ban-ban itu dicuci dan disortir satu-satu, lalu ditambal dengan cermat. Setelah belasan sampai puluhan ban usai diperbaiki, pembeli berdatangan dari berbagai tempat.
Bukan cuma dari daerah Jepara saja, juga dari daerah-daerah lain. Kata Machfudi, tengkulak dari Kudus, Demak, Purwodadi pun ikut membeli ban permak-an itu. Menjelang Lebaran seperti sekarang, jumlah pembeli naik dua kali lipat. Untung dia sudah dibantu oleh dua pekerja. Berapa keuntungan didapat setiap harinya? Dijawab, sekitar Rp 200.000 bersih. Menjelang Lebaran, labanya naik dua kali lipat. Wow, sangat menggiurkan bukan? (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)