Nasib Perawat Muda di Zaman Modern
- U-Report
Lalu, apa artinya sekolah puluhan tahun, lulus ujian berkali-kali, mengalami penggemblengan di setiap tingkat pendidikan, menerima mata ajar manajemen, menyelesaikan tugas ilmiah hingga skripsi, namun pada akhirnya rela bekerja menakar urine, memberi makan pasien, rela dimarahi baik oleh pasien maupun senior, membersihkan kotoran pasien, menyuntikkan obat yang berisiko, melakukan resusitasi, menangani yang sakit jiwa, berusaha menyelamatkan jiwa yang kritis, menghentikan perdarahan, memasukkan obat dan alat ke kemaluan orang lain, hingga merawat luka yang penuh borok dan bau busuk, namun tidak berani menetapkan nilai yang layak atas setiap usaha dan kerja keras tersebut?
Tidak perlu harga yang mahal, minimal yang layak saja. Itu sudah lumayan. Tapi ini tidak ada sama sekali. Di sinilah terlihat dengan sangat jelas gagalnya pendidikan negeri ini. Kita gagal mendidik manusia yang tahu akan dirinya, tahu harga dirinya, sekalipun tentunya menolong manusia tidak semuanya harus dengan pamrih.
Sekali lagi, ini bukan soal pamrih, tapi soal perlakuan yang layak. Karena manusia seperti perawat juga butuh makan, minum, butuh kendaraan, butuh menikah, dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Sulawesi Selatan, tapi juga di seluruh pelosok negeri ini. Bahkan parahnya, tidak hanya dialami oleh perawat, tapi juga banyak profesi lain namun yang terbanyak adalah perawat.
Kita tidak sedang menyalahkan siapa-siapa, akan tetapi saya coba memaparkan fakta sehingga semua orang yang mengaku bertumpah darah Indonesia mengetahui akan hal ini, dan berusaha mengambil bagian untuk perbaikannya. Jika tidak, maka cepat atau lambat kita akan kehilangan generasi terbaik kita. Generasi tanpa harga diri.
Lebih lanjut saya sampaikan sebagai salah satu solusi yang boleh jadi bisa memecah kemelut dan kebuntuan ini adalah dengan melakukan audiensi dan diskusi dengan pemerintah di berbagai tingkatan. Kita bersyukur di Kota Makassar bertepatan dengan International Nurses Day kemarin, walikota Makassar telah menyampaikan dan berkomitmen bahwa tidak boleh lagi ada fasilitas kesehatan yang mempekerjakan perawat dengan upah di bawah UMR/UMP.