Nasib Perawat Muda di Zaman Modern
- U-Report
Kemudian kita lihat di zaman sebelum penjajahan, para perawat dijajah oleh orang-orang tentara Belanda dengan mempekerjakan perawat-perawat. Namun di zaman sekarang ini, justru perawat yang menjajah profesinya sendiri. Kenapa? Karena setiap tahun ke tahun perawat selalu dipersulit untuk mencapai STR, seakan-akan STR ini adalah suatu gelar yang mendiskriminasi kepecayaannya kepada kampus yang mendidik perawat-perawat kurang lebih 5 tahun.
Kita lihat angka persentase setiap kota, begitu banyak sekolah-sekolah kesehatan yang kemudian sekolah-sekolah ini akan menciptakan ribuan lulusan keperawatan setiap tahunnya, tapi tidak dibandingkan dengan peluang kerjanya. Menurut pendapat dari kepala dinas kesehatan kota Sulawesi Selatan bahwa populasi terbanyak lulusannya setiap tahun khususnya di bidang kesehatan di Sulawesi Selatan peringkat pertama adalah perawat, kemudian peringkat kedua kebidanan, dan peringkat ketiga kedokteran. Bahkan di kota-kota lainpun sampai ke polosok-polosok banyak lulusan perawat yang belum punya pekerjaan karena lowongan kerjanya sangatlah kecil.
Dari persentase tersebut, berarti dapat disimpulkan bahwa begitu banyak lulusan keperawatan yang menganggur di negeri ini. Lantas apa yang perlu kita perbuat? Seandainya pohon bisa bicara, sang induk akan selalu berkata kepada anaknya, "Nak, menjauhlah dari ibu bila kamu ingin tumbuh besar dan berbuah". Fenomena yang sama bisa terjadi pada manusia, termasuk perawat muda. Bila kalian ingin tumbuh besar , kuat dan berkembang, bekerjalah tanpa upah. Inilah tantangan terbesar profesi ini saat ini, selain masalah minimnya perlindungan dan masalah-masalah lain di atas.
Karena dari kerelaan inilah yaitu bekerja tanpa upah sama sekali menjadikan profesi ini sampai hari ini belum bisa bangkit sejajar dengan profesi yang lain. Mungkin tidak enak kedengarannya, tapi memang demikian adanya. Inilah fakta yang boleh jadi sebagian besar dari kita tidak mengetahuinya. Atau boleh saja sudah tahu, akan tetapi mengabaikannya. Aneh memang, bagaimana mungkin sekolah bertahun-tahun lalu kuliah profesi selama lima tahun, namun tidak bisa menentukan harga diri sebagai manusia dengan menerima upah yang layak.
Bandingkan dengan pekerja kasar yang tidak harus sekolah sampai sarjana seperti perawat, yang biasa diminta hanya untuk sekadar memperbaiki atap rumah yang bocor, ataupun memperbaiki bangunan rumah kita. Jika standar harga yang mereka tetapkan tidak disepakati dengan yang empunya rumah, maka dengan gagah berani mereka dapat menolak pekerjaan tersebut.