Apakah Kita sedang Diadu Domba?

Tambang emas Freeport di Papua, salah satu kekayaan Indonesia.
Sumber :
  • VIVAnews/Banjir Ambarita

Di Indonesia ada dua kelompok organisasi/golongan dengan pemikiran dan perjuangan yang dianggap sebagai penghalang gerakan mereka, yakni kelompok Islam dan kiri. Kedua kelompok ini sangat bertentangan dengan ideologi kapitalisme sampai ke akar-akarnya. Kedua kelompok inilah yang ingin mereka hancurkan, dipecah belah, hingga tak berdaya. Lalu, mulailah mereka menyusup ke ormas-ormas Islam, ormas-ormas kiri, ke media massa, ke partai politik. Kemudian melakukan propaganda, menghasut, mengikis perlahan dari dalam tubuh organsasi itu sendiri.

img_title Coastal Beach Clean Up di Hari Peduli Sampah Nasional

Lihat saja sekarang, antara ormas Islam banyak berselisihnya. Coba perhatikan, betapa seringnya sekarang berita-berita yang membahas persoalan agama, lalu digoreng oleh media massa seolah-olah menjadi persoalan besar. Masing-masing ormas Islam berbeda pendapat, ulama berbeda pendapat, tokoh agama berbeda pendapat, yang sebenarnya perbedaan pendapat biasa, tetapi didramatisir seolah-olah sebuah pertentangan. Ini akhirnya membuat kekisruhan yang memancing reaksi para pengikut antar organisasi tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ada pula ormas yang sengaja memancing emosi ormas lainnya, seolah-olah pendapat merekalah yang paling benar. Padahal mereka sesungguhnya penganut kitab yang sama, kiblat yang sama, dan Tuhan yang sama. Mereka juga tidak segan-segan melakukan fitnah, menuduh orang atau kelompok tertentu sebagai penganut paham radikalisme, terorisme.

img_title Driver Ojek Online Sedekah Jasa Antar Anak Yatim ke Sekolah

Pelan-pelan tapi pasti, mereka juga mulai merambah ke organisasi-organisasi kiri, organisasi yang sangat keras memperjuangkan upah buruh, hak-hak buruh. Organisasi pembela orang-orang tertindas, orang pinggiran, golongan miskin, petani dan sebagainya. Hingga akhirnya, aktivis kiri saling bertentangan, saling bertikai. Mereka yang tadinya sangat solid, akhirnya terpecah, berjalan sendiri-sendiri padahal untuk mencapai tujuan yang sama.

Selanjutnya, kaum neo-imperialisme ini tinggal menghancurkan kelompok/golongan kecil yang dianggapnya sebagai penghalang dengan mudah. Sehingga, penjajah gaya baru itu sukses menancapkan kakinya menguasai Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, tanpa harus angkat sejata. (Tulisan ini dikirim oleh iman.crp)

img_title Avi Choir Avicenna, Paduan Suara Cilik yang Penuh Prestasi
Ilustrasi.

Pergilah Dinda Cintaku

Maafkan aku yang terlalu berlebihan mencintaimu.

img_title
VIVA.co.id
26 Februari 2018
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut