Ramadan, antara Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial
- U-Report
Bukankah baginda Rasulullah SAW sejak lima belas abad silam telah mewanti-wanti betapa kemiskinan itu seringkali berujung pada kekafiran, kada al faqru an yakuna kufran. Dari peristiwa ini kita harus membuka mata bersama bahwa masalah kita hari ini adalah krisis kesalehan sosial yang mengakibatkan saudara kita miskin, tetangga kita miskin, hingga dekat dengan apa yang di peringatkan oleh baginda Rasulullah SAW di atas.
Menahan haus dan lapar di bulan Ramadan ini adalah bagian dari bagaimana kita bisa merasakan yang dirasakan kaum fakir miskin. Sehingga keberadaan bulan Ramadan sebagai contoh bagi bulan-bulan lainnya. Bagaimana kita berlomba-lomba melakukan kesalehan individual dan menyempurnakannya dengan kesalehan sosial.
Menahan haus, lapar, hawa nafsu, kemudiaan berzikir, tadarus sampai bersedekah. Bulan Ramadan telah mengajarkan kita cinta kepada Allah dan sesama manusia. Di mana jika cinta antara orang kaya yang lapar terhadap orang miskin yang lapar tercipta, maka untaian hikmah kemanusiaan di dalam diri menemukan kekuasaannya sebagai “sang mesias”, juru selamat.
Orang yang berpunya dan hatinya selalu diasah dengan puasa, maka telinga jiwanya mendengar suara sang fakir yang merintih karena haus dahaga. Sehingga kita tak lagi egois dan asyik menjalankan kesalehan individual sampai lupa dengan kesalehan sosial yang justru menjadi penyempurna ibadah kita. Seperti apa yang telah diperingatkan kepada kita, bahwa celakalah bagi orang-orang menjalankan salat, tetapi menghardik anak yatim dan tak memberi makan fakir miskin. (Tulisan ini dikirim oleh Abdul Rasyid Tunny, Makassar)