Ramadan, antara Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial
- U-Report
Padahal secara tegas agama mengajarkan kepada kita, ibadah seorang muslim tidaklah lengkap tanpa keseimbangan antara pelaksanaan habluminallah dan habluminannas (hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia). Kesalehan sosial bukan saja terabaikan di negeri ini, namun hampir punah. Kesalehan sosial hanya terlihat ketika bulan Ramadan. Lihat saja angka antrian haji dari tahun ke tahun semakin tinggi, begitupula angka kemiskinan dari tahun ke tahun semakin tinggi.
Jikalau itu haji wajib apa hendak dikata. Namun, ada sebagian kalangan yang berduit banyak masih saja melaksanakan ibadah haji berulang-ulang kali, padahal ia lupa jika dalam agama haji diwajibkan hanya sekali. Mungkin mereka lupa jika Islam mengajarkan “Udkhuluu fis silmi kaffah” bahwa kesalehan dalam Islam mestilah secara total.
Ya, secara tegas kita bisa menyimpulkan saleh secara individual/ritual juga saleh secara sosial. Karena ibadah ritual selain bertujuan pengabdian diri pada Allah, juga bertujuan membentuk kepribadian yang islami sehingga punya dampak positif terhadap kehidupan sosial, atau hubungan sesama manusia. Namun, kembali lagi, kesalehan itu tidak ditentukan berdasarkan ukuran serba formal. Dan biasanya, Untuk hal satu ini ada saja orang-orang yang merasa memiliki otoritas untuk menilai kredibilitas moral orang lain.
Ramadan kali ini muncul fenomena satpol PP menutup warung yang buka di siang hari menjadi polemik. Beberapa pemilik warung beralasan buka siang hari karena tidak tahu ada himbauan larangan buka siang hari di bulan Ramadan. Sebagian lagi buka warung karena butuh uang untuk menghadapi Lebaran. Peristiwa ini tentunya ditanggapi berbeda-beda dan tegantung pada pendekatan apa yang digunakan oleh sang penanggap.
Penulis teringat dengan Gus Dur yang giat menganjurkan agar berpuasa dengan menghargai orang yang tidak berpuasa. Salah satu pemikiran cemerlang Gus Dur menurut hemat penulis adalah ketika ia menyampaikan agar umat Islam harus istirahat sebentar dari kesibukan berdebat tentang hal-hal fundamental, seperti batalnya wudu, qunut dan tidak qunut, yang membatalkan puasa dan tidak membatalkan puasa, untuk khusyuk bersama-sama memikirkan bagaimana kemiskinan umat ditangani.