Pengalaman Memalukan saat Pijat Refleksi
- Pixabay/ Andreas
Nah, saya? Bagaimana bisa rileks, saya merasa semua mata pengunjung di mall ini seperti sedang memandang saya. Belum lagi, si mas yang memijat saya entah ada dendam apa sama saya, tapi mijatnya keras banget. Dan puncaknya, ketika di satu titik dia memijat kencang sekali sampai berasa urat saya mau putus. Saat itu saya ingin sekali teriak "Sakit banget bro!" Tapi saya tahan karena di sebelah saya ada ibu-ibu haji yang sama-sama lagi dipijat, tapi mukanya dia seperti yang benar-benar menikmati. Malu berat kalau ibu yang di sebelah saya saja menikmati dipijat, kok saya malah jerat-jerit tidak karuan.
Di saat ini, saya mendadak ingat kalau saya bawa iPod di tas. Biar lebih rileks, dipijat sambil dengerin lagu sepertinya lebih baik. Biar sakitnya tidak terlalu terasa dan bikin saya lebih santai juga. Oke, ketika saya nyalakan, lagu yang pertama muncul di telinga saya adalah lagu "Gingham Check" dari JKT48. Lagunya seru, sering saya dengerin lagu ini kalau lagi suntuk.
Salah satu kebiasaan buruk saya kalau lagi dengerin lagu adalah saya sering enggak sadar ikut nyanyi keras-keras sambil mengikuti irama musik. Biar tidak hafal lirik, tapi kalau musik sudah on di telinga, biasanya saya pun ikut nyanyi. Dan saya sama sekali tidak sadar kalau saya sekarang berada di tempat umum.
Saya merem sambil nyanyi lagu Gingham Check yang berputar merdu di telinga. "Ging-ham che-ck Pola dari cinta blue white blue Mana yang ku pilih". Saya menyanyi dari hati sambil menghayati. Sedang enak-enaknya nyanyi, tiba-tiba terapis yang mijat saya menyenggol jempol kaki saya. Saya buka mata sebentar, dan dia kasih kode tangan ke mulut. Kemudian melihat orang-orang di sekitar saya sedang memandang saya sambil senyum-senyum.
Ibu yang ada di sebelah saya geleng-geleng kepala, dan teman saya yang juga dipijat di sebelah saya pura-pura tidak pernah kenal sama saya. Dan saya baru sadar kalau ternyata saya menyanyi terlalu keras. Mending kalau suaranya bagus, lah ini? Oh oke. Mungkin ini adalah kali pertama dan terakhir saya pijat kaki di sini. (Cerita ini dikirim oleh Stefanus Sani, Bandung)