Belajar dari Rasa Sakit Hati

Sakit Hati
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Manusia besar adalah manusia yang mampu mengolah sakit hati menjadi prestasi (Anonim). Salah satu rangkaian dalam hidup yang harus kita hadapi adalah sakit hati. Sakit hati entah karena perilaku orang lain atau entah karena perilaku kita sendiri tapi kita tidak tanggap, sehingga setiap orang yang dekat dengan kita dan melakukan suatu hal kecil membuat kita menjadi sakit hati.

img_title Pergilah Dinda Cintaku

Terbakar, terluka, dan akhirnya kita berpikir bahwa mereka tidak mengerti kita. Contoh yang paling jelas tentang sakit hati bisa dilihat di televisi. Berita suami istri saling sakit hati lalu mengakhiri rasa sakit itu dengan tindakan kriminal. Seorang murid yang sakit hati dan mencederai gurunya. Anak kecil yang sakit hati dengan temannya lalu melukainya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sakit hati ada di mana-mana. Sakit hati bukan lagi dikenal sebagai penyakit yang tertera di buku resep dokter. Sakit hati lebih dikenal dengan sakit perasaan. Jiwa yang sakit. Bila sakit hati itu dipendam menjadi sebuah dendam. Pandawa disakiti oleh Kurawa, dikucilkan di hutan. Para Nabi dikucilkan pengikutnya sendiri. Para pemimpin sering ditikam dari belakang justru oleh orang yang ada di sampingnya.

img_title Tanggung Jawab dan Rekonsiliasi Masyarakat Lumban Dolok

Sakit di hati adalah sebuah rasa yang tertusuk dan nyeri. Sulit untuk mengungkapkannya dengan kata-kata. Sakit ini bisa menetap bila tidak diobati. Menjadi bara yang membakar dalam konotasi positif dan negatif. Positif ketika sakit ini membakar ke arah prestasi. Negatif ketika justru sakit ini berubah menjadi dendam tak berkesudahan.

Saya selalu ingat bagaimana rupa teman-teman yang sakit hati. Ada yang merasakan begitu perihnya sakit hati hingga tidak bisa bangkit. Ada yang menyalurkanya pada sesuatu yang lain. Mimpi yang lebih indah lewat rokok atau ganja. Ada yang tenang saja dan menganggap sakit di hati adalah angin lalu.

img_title Jokowi Diminta Lerai Konflik Ketua Pramuka dengan Menpora

Saya juga pernah sakit hati. Sakit karena perlakuan teman-teman ketika kecil dulu. Ketika nilai rapor berhias angka merah untuk satu pelajaran bernama matematika. Saya sendiri kurang ingat kenapa saya bisa mendapatkan angka itu di rapor. Apakah karena guru terlalu lelah hingga tertukar dengan nilai teman yang absennya di atas atau di bawah saya yang nama depannya sama dengan saya. Atau karena memang saya yang sudah berada pada kondisi memberontak pada saat kelas lima SD sehingga ingin melihat sesuatu yang berbeda di rapor saya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut