Saya Anaknya Ibu
- http://jelajahtravkulindonesia.blogspot.co.id/
Pertanyaan klasik untuk dijawab. Sosok ibu dalam keluarga sangatlah vital. Sebab, kesuksesan suami bisa melalui perantara istri yang tangguh di belakangnya, yang mampu memberikan dorongan positif. Di balik anak yang saleh pasti terdapat sentuhan sosok ibu yang selalu memiliki waktu lebih untuk mengawasi dan bertindak yang edukatif sebagai contoh sang anak untuk menjalani kehidupan ke depannya.
Habitual statement tentang ibu dari budayawan yang juga sering berkelana menghadiri undangan ke manca negara ini memiliki kaitan dengan negara yang terkenal dengan sebutan kincir angin. Benar, Belanda yang bisa mengingatkannya akan sosok ibu dalam kehidupan Pak D. Ia mengungkap dalam salah satu dialog budaya di gedung PKK tentang kaitan negara Belanda dengan sosok ibu baginya.
“Negara Belanda yang telah mengingatkan saya akan sesuatu. Kalian tahu itu apa? Selama satu bulan saya di Belanda membuat saya sadar bahwa saya anaknya ibu,” ungkap Pak D Zawawi Imron di tengah-tengah penyampaiannya dalam acara dialog budaya yang diselenggarakan oleh mahasiswa Yogyakarta asal Kabupaten Sumenep.
Cerita dari Pak D tersebut muncul saat ia menjelaskan tentang salah satu budaya Madura yang mulai hilang, yaitu tata krama (tingkah laku yang baik). Dengan mengingat bahwa anaknya ibu, ia bisa menahan diri untuk tidak bertingkah yang keluar dari garis kebenaran. Ia akan mampu memberikan tembok yang besar untuk dirinya, meski sebenarnya ia ingin juga melanggar, tapi kesadaran yang mencegahnya. Kejujuran yang diungkap oleh Pak D.
Sebenarnya, suara dari sosok kebanggaan Madura yang juga sebagai tokoh agama ini untuk mengingatkan dan mengembalikan kita ke garis yang lebih baik untuk dijalani. Melihat keadaan saat ini yang mulai kurang nyaman untuk dipandang oleh setiap orang, membuat sadar akan arti sesungguhnya dari kehidupan. Semua akan meneteskan air mata dan mengaku bersama Pak D bahwa, “Saya anaknya ibu”. (Tulisan ini dikirim oleh Syahid Mujtahidy, Pamekasan)