Simposium Konservasi Mamalia Besar Indonesia
Sementara itu, para pembicara yang lain mengungkapkan masalah-masalah yang terjadi pada empat mamalia besar yaitu harimau, badak, gajah dan orangutan yang terjadi sekarang ini. Menurut Hariyo Tabah Wibisono dari Flora Fauna International (FFI), harimau dulu ada hampir di seluruh kawasan Asia yang ia tunjukkan melalui slide bergambar peta Asia. “Saat ini hanya sekitar 7 persen saja yang tersisa. Ancaman punah ini berstatus global,” ujarnya.
Mengungkapkan masalah yang sama, Haerudin R. Sadjudin dari Yayasan Badak Indonesia menjelaskan bahwa badak saat ini sangat terancam punah dan banyak mengalami penurunan jumlah. “Saat itu saya ingat, tahun 70-an jumlah badak masih ratusan ekor. Terakhir pada tanggal 27 Juli ditetapkan badak jawa hanya tinggal 62 ekor,” ungkap Haerudin.
Sedangkan menurut Sri Suci Utami Atmoko, perburuan liar terjadi akibat masyarakat belum tahu potensi satwa. Ia memberi contoh, di Afrika wisata satwa yaitu gorila lebih berpotensi menghasilkan uang daripada hasil yang mereka dapatkan dari penjualan.
Sejalan dengan yang akan dijelaskan oleh Fachrudin Mangunjaya mengenai perdagangan satwa liar ditinjau dari fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Chairul Saleh dari WWF menjelaskan bahwa perburuan dan perdagangan liar adalah masalah moral. “Penjualan ilegal adalah masalah moral bangsa Indonesia. Membunuh satwa langka bahkan dalam MUI sudah dinyatakan haram,” ungkapnya.
Di antara semua masalah konservasi yang terjadi, Fachruddin Mangunjaya menawarkan solusi yang menurutnya sangat dekat dengan manusia, yaitu agama. “Agama sudah melarang perburuan sejak dulu, walaupun saat itu tidak ada larangan untuk berburu, seperti yang WWF (World Wildlife Fund) lakukan sekarang,” ujar Fachruddin.
Dosen Fakultas Biologi yang pernah mengkampanyekan konservasi alam melalui agama di Inggris ini menjelaskan bahwa agama adalah sektor terbesar di dunia yang terorganisir. Untuk itu seharusnya mudah mengkampanyekan menjaga alam melalui pendidikan agama. (Tulisan ini dikirim oleh Dian Metha Ariyanti, Manajer UPT Marketing & PR Universitas Nasional)