Sebuah Kritik dalam Doa

Ilustrasi berdoa.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Sehari sebelum hari kemerdekaan, Presiden Joko Widodo melakukan pidato kenegaraan. Pidato ini merupakan bagian dari agenda rutin di mana berkumpulnya berbagai kalangan, mulai dari eksekutif sampai legistlatif. Namun di balik agenda besar itu, ada sebuah kejutan. Sebab di hari itu, seperti biasa saat acara-acara kenegaraan lainnya atau acara apapun selalu terselip di dalamnya sebuah ritual penutup yaitu doa.

img_title Kemenkeu Raih Opini WTP ke-15 secara Berturut-turut dari BPK, Begini Kata Purbaya

Di balik kemegahan Gedung DPR/MPR ada momen dengan doa yang seharusnya menjadi sebuah alat untuk menyampaikan harapan hamba kepada Tuhan-nya justru berubah menjadi momen yang membuat heboh publik. Ketika penulis mengikuti Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR RI tahun sidang 2016-2017 dari layar televisi, saya melihat beberapa anggota-anggota terhormat itu justru matanya saling memandang. Mungkin hal ini dikarenakan isi doa yang dilantunkan oleh politisi Partai Gerindra yang menuai kontroversi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dengan gagah sosok HR Muhammad Syafi'i berjalan menuju podium untuk menjalankan tugas memimpin doa di hadapan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta jajaran menteri Kabinet Kerja dan juga para anggota DPR. Sambil mengangkat kedua tanganya, Syafi’i mulai memanjatkan doa yang penggalannya seperti berikut:

img_title Bela Zulhas, Politisi PAN Sesalkan Ada Penggiringan Opini Negatif Terkait Video Makan di Aceh

“Sangat khawatir bangsa kami akan menjadi kuli di negeri kami sendiri. Tapi hari ini, sepertinya kami kehilangan kekuatan untuk menyetop itu bisa terjadi. Lihatlah Allah. Bumi kami yang kaya dikelola oleh bangsa lain, dan kulinya adalah bangsa kami. Ya Rabbal Alamin”.

Sepotong doa yang sengaja penulis muat kembali dalam tulisan ini agar memperjelas sebagian isi doa yang dianggap sebagai doa titipan ataupun doa politis. Di antara banyaknya isi doa yang dilantunkan, saya lebih suka dengan penggalan yang saya lampirkan di atas.

img_title Respons Istana Soal Tulisan Opini di Detikcom yang Dihapus: Naikkin Lagi Saja

Jika ada orang yang berkata kalau itu doa titipan, maka bagi saya yang mengatakan begitu adalah orang titipan pula. Jika bilang itu doa politik, maka orang yang bilang juga punya kepentingan di baliknya. Hal ini bisa saja terjadi karena posisi komentator-komentator doa tersebut berada pada posisi Pemerintah bukan oposisi. Nah, ini yang membedakan pandangan saya yang bukan berada pada kedua titik tersebut (Pemerintah ataupun oposisi).

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut