Pentingkah Mengantar Anak ke Sekolah?
- U-Report
Keesokkan harinya, Agung tampil gagah dengan putih merahnya, namun wajahnya sedikit tak bersemangat sebab ia tak diantar oleh ibunya. Tentunya sesampainya di sekolah, ia merasa berbeda dangan yang lain. Sebab hampir semua anak diantar oleh ayah mereka bahkan ibunya juga ikut. Jadi, sebagaian besar murid di sekolah itu diantar oleh ayah dan ibunya. Agung yang cemberut dipanggil oleh gurunya yang juga teman dari kakaknya. Kemudian guru tersebut menghibur dengan menyanyikan lagu untuk Agung. Setelah menyanyikan lagu untuk Agung, si guru pun menyuruh Agung untuk memperkenalkan dirinya, namun agung masih saja tak bersemangat.
Dengan nada lemah Agung memperkenalkan dirinya, “Nama beta Agung. Beta tinggal di kompleks air jebol. Beta Ayah sudah meninggal. Beta Ibu ada pigi rapat. Beta Kakak ada pigi kuliah.” Guru tersebut spontan menyemangati Agung dengan menyuruh seisi kelas untuk bertepuk tangan buat Agung. Tak lama kemudian, muncul sang kakak dari samping kelas lalu duduk di belakang sembari melihat Agung di depan sang kakak pun tepuk tangan sendirian untuk menyemangati sang adik, maka dikuti tepuk tangan oleh yang lain.
Kelas hari itu terasa semua bergembira. Kesan pertama yang baik untuk menumbuhkan semangat mereka. Sebelum pulang, sang kakak berpamitan dengan gurunya Agung. Karena mereka adalah seangkatan waktu sekolah, tentunya mereka saling mengenal. Sang kakak pun mengucapkan terimakasih kepada sang guru karena telah membantu masalah awal yang ia hadapi di hari pertama sekolah adiknya.
Dan itulah intinya, komunikasi antara guru dan orang tua sangat penting. Sebagaimana penulis kutip penjelasan dari Pak Anies. Pesan moral dari cerita ini bukanlah persoalan relasi, tetapi komunikasi, sehingga masalah anak teratasi. Tak ada alasan untuk tidak mengantar anak di hari pertama sekolah sebagaimana perjuangan sang kakak untuk adiknya yang memainkan peran sebagai ayah dan kakak yang baik.
Di desa tersebut, mengantar anak pergi ke sekolah memang sudah menjadi tradisi di hari pertama sekolah sang anak. Bahkan akan berlangsung satu minggu lamanya jika sang anak belum mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Penulis pun sadar jika “Gerakan Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah” bukanlah hal yang baru bagi punulis. Sebab dalam tatanan adat istiadat sudah tertanamkan. Yang menjadi persoalan adalah masyarakat kota yang jauh dari yang namanya hukum adat, dan tak mau pusing lagi dengan kearifan lokal.