Derita Hidup, Ditinggal Suami dengan Anak Perempuan Cacat
Selain hal di atas yang membuat Triwiyati menghentikan terapi bagi anaknya, juga ada hal lain terkait biaya. Ongkos transportasi membawa Putri Septiani pergi pulang dari desa ke RSDK relatif besar. Belum termasuk biaya terapinya sendiri. Padahal, sebulan setidaknya empat kali anaknya harus dibawa ke RSDK untuk terapi. “Uang dari mana untuk biaya itu semua? Saya hanya bakul bumbon, keuntungannya cuma cukup buat makan sehari-hari,” keluh Triwiyati.
Setahun ini Putri Septiani dibiarkan tergolek di tempat tidur. Jika Triwiyati jualan di pasar, dia dititipkan pengawasannya pada tetangga. Walau usianya sudah enam tahun, dia tak bisa ke manapun. Jangankan berjalan seperti anak-anak seusianya, menggerakkan tubuh pun Putri Septiani tidak mampu.
"Hanya bisa menangis jika ada sesuatu yang dirasanya kurang nyaman," ucap Ny. Triwiyati, yang merasa menghadapi cobaan hidup tak tahu kapan berakhirnya. (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)