Hanya Ada Satu Pasangan Calon di Pilkada Pati 2017
Sementara Tasiman SH, sesepuh PDIP Pati, mantan Ketua DPC Pati/Ketua DPRD Pati/Bupati Pati yang dibui karena kesandung kasus korupsi, secara langsung atau tidak menyebut PDIP Pati tak lagi punya kekuatan politik. Sehingga tak mampu mengusung kader sendiri di Pilkada 2017. Karena Haryanto dan S. Arifin bukanlah kader PDIP.
Haryanto adalah mantan Sekda Pati. Sedangkan S. Arifin sendiri tak punya basis politik, ia cuma pengusaha. Tapi Ali Badrudin, Ketua DPC PDIP Pati berkata kalau dua nama itu telah bersedia menjadi anggota dan mengantongi KTA PDIP. Jadi mereka adalah kader PDIP.
Yang pasti PDIP Pati dua kali remuk di Pilkada. Tahun 2012 lalu harusnya menang, posisi Bupati teraih. Tapi sayang ada jegal-jegalan antar kader yaitu Sunarwi (saat itu Ketua DPRD) dan Imam Suroso (DPR/FPDIP). Dan Haryanto pun dapat durian runtuh dengan memenangkan Pilkada dan menjadi Bupati.
Sunarwi, Mudasir, Irianto (mereka anggota DPRD) hengkang dari PDIP Pati. Di Pemilu 2014 mereka lolos jadi anggota DPRD Pati di bawah Fraksi Hanura. Andai mereka tak keluar, PDIP punya 11 kursi. Bisa mengusung paslon sendiri tanpa berkoalisi dengan parpol lain.
Syarat minimal untuk mengusung paslon, sebuah parpol/gabungan parpol harus punya 10 kursi. PDIP Pati kini hanya punya delapan kursi, sehingga terpaksa koalisi dengan parpol lain. Karena secara politis tak punya kekuatan mumpuni, PDIP Pati dipaksa mengusung bukan kader tulen. Inikah pertanda kalau Kandang Banteng Pati ambruk? (Tulisan ini dikirim oleh Heru Christiyono Amari, Pati, Jawa Tengah)